JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia punya kesempatan untuk memperluas pasar ke Australia lewat kerja sama dagang IA-CEPA (Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia). Termasuk dalam hal ekspor kendaraan secara utuh (CBU/Completely Built Up) ke Negeri Kanguru.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika, mengatakan, Indonesia punya beberapa kelebihan dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Meski begitu, menurut Putu, permintaan terbesar pasar Australia ada di segmen sedan dan SUV. Sementara Indonesia lebih banyak memproduksi kendaraan MPV atau mobil keluarga 7 penumpang.


Baca juga: Fortuner 2020 Meluncur di Thailand, Kapan Diproduksi di Indonesia?

Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia ( TMMIN) sebagai produsen mobil terbesar di Indonesia, sebetulnya punya Vios, Fortuner, maupun Rush yang cocok dengan pasar Australia.

“Namun produk kita belum sesuai dengan permintaan pasar Australia, ada perbedaan segmentasi,” ujar Putu, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT TMMIN Bob Azam, mengatakan, perusahaan bakal mempelajari kemungkinan untuk bisa ekspor ke Australia.

Baca juga: Bus Liar Marak Beroperasi Tanpa Peduli Regulasi dan Protokol Covid-19

Produksi All-New Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang I, Jawa Barat. Febri Ardani/KompasOtomotif Produksi All-New Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang I, Jawa Barat.

Walau demikian, perbedaan spesifikasi produk membuat PT TMMIN belum tertarik mengekspor mobil ke sana.

“Ke Australia kita belum, karena spek berbeda dengan kita. Jadi harus dilihat lagi kebutuhannya, semisal di sana sudah Euro6, sedangkan di sini masih Euro4,” ucap Bob, kepada Kompas.com (11/6/2020).

“Jadi memang perbedaan standar jadi isu juga. Bisa saja produk kita ditingkatkan jadi Euro6, cuma kita kena problem efisiensi nantinya. Karena line ekspor masih satu line dengan produk domestik,” katanya.



Sumber