Pada 2008 silam, istilah Blue Energy sempat menjadi ‘’keributan’’ di Indonesia. Pasalnya penemu Blue Energy kala itu yang bernama Djoko Suprapto sampai dijebloskan ke penjara karena dakwaan penipuan akan penemuan energi—yang diklaim—terbarukan itu.

Kala itu, Djoko mengklaim telah menemukan teknologi terbaru mengenai arus listrik yang bisa dialirkan dari air. Itulah kenapa ia menyebutnya dengan nama Blue Energy.

Namun, siapa sangka bahwa dari kasus tersebut, anak-anak Indonesia justru berhasil mengembangkan beberapa teknologi yang terbukti bisa mengubah air laut menjadi alternatif bahan bakar.

GNFI menghimpun beberapa bukti penemuan teknologi ini. Sedikitnya ada empat penemuan teknologi yang ditemukan selama satu dekade terakhir. Sayang, dari empat penemuan teknologi ini, GNFI tidak menemukan info terbaru mengenai adanya proses pengembangan dan pengkajian yang besar sehingga bisa disosialisasikan secara masif kepada masyarakat.

Berikut empat penemuan teknologi pengubah air laut menjadi bahan bakar alternatif karya anak bangsa.

2011, Sky Water Energyzing

Sky Water Energyzing ini adalah karya dari Fariz Hidayat yang kala itu masih menjadi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Karyanya ini terinspirasi dari sky boat yang sedang melaju kencang, lalu tiba-tiba harus berhenti karena kehabisan bahan bakar.

Berdasarkan pengamatannya dari cara kerja sky boat itu, Fariz berusaha untuk menemukan rekayasa teknologi yang bisa dimanfaatkan dari bahan sederhana, namun sudah tersedia dan berlimpah yang ada di sekeliling.

‘’Karena negeri kita termasuk Negeri Maritim, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber laut saja?’’ kata Fariz dikutip Okezone (26/9/2011).

Sistem kerja Sky Water Energyzing adalah dengan menambahkan sistem filter yang dilengkapi dua reaktor, yaitu bar reactor dan screen reactor. Dua reactor ini dilengkapi katalis Polymer Electrode Membran Cell (PFMC).

Nantinya, dua rekator tersebut berfungsi untuk meningkatkan pembakaran dan menjadikan air laut sebagai energi. Selanjutnya, PFMC berguna untuk menyaring elektron dan proton yang kemudian diubah menjadi gaya gerak listrik yang mampu menggerakkan kapal nantinya.

PFMC yang berfungsi sebagai katalis itu diketahui dapat menghasilkan energi 200 watt untuk satu liter air laut. Tak terbatas untuk pemakaian sky boat saja, hasil karyanya ini diklaim dapat dimanfaatkan juga untuk kapal-kapal nelayan. Hanya saja perlu mengganti katalis PFMC dengan jenis lain yang lebih terjangkau harganya.

2012, Penyulingan Air Laut Menjadi Biodiesel

Teknologi ini ditemukan Pakar Marine Saint, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Eddiwan, pada 2012 silam. Kala itu Eddiwan mengklaim bahwa air laut bakal menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

‘’Penyulingan air laut menjadi biodiesel yang merupakan bahan bakar energi alternatif telah berhasil kami uji. Tinggal lagi penyesuaian mesin kapal yang cocok untuk biodiesel tersebut,’’ ungkap Eddiwan dikutip Republika (5/6/2012).

Pemanfaatan teknologi biodiesel dari air laut ini merupakan salah satu program Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau kala itu untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak.

Untuk menghasilkan bahan bakar biodieselnya akan melalui proses dengan cara mengendapkan air laut yang akan disulingmenggunakan alat penyuling yang berukuran 0,1 mikron atau plankton net.Air laut sulingan itu nantinya akan menghasilkan minyak sel yang berasal dari biota-biota yang hidup di laut. Hasil dari penyulingan inilah yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Sayangnya, ketika Eddiwan mempresentasikan teknologi ini ke Kementerian Kelautan, idenya kala itu ditolak dengan alasan mahal. Itulah sebabnya Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berinisiatif mengembangkan teknologi listrik dengan memanfaatkan air laut ini.

Pada 2012 silam, bahan bakar biodiesel dari air laut itu baru dalam tahap penerangan lapangan. Baru pada 2013 sudah mulai didistribusikan ke masyarakat serta sosialisasi cara penyulingannya.

‘’Teknologinya sederhana bahkan dapat dilakukan oleh nelayan yang tidak bersekolah sekalipun,’’ ungkap Eddiwan.

2014, Alternatif Energi Gas Hidrogen Air Laut (Anti Galau)

Ya. Nama teknologi ini disebut dengan Anti Galau. Nama yang ikonik yang menggambarkan situasi tentang semakin mendesaknya kebutuhan energi terbarukan untuk Indonesia.

Sesuai dengan namanya, Anti Galau ini adalah alat yang akan mengubah air laut menjadi gas hidrogen yang dapat dijadikan bahan bakar. Skuad Anti Galau ini terdiri dari Ari Dwi Saputra, Prehardi Suryo Prasetyo, Nur Aulya Fauzia, dan Muhammad Irfan, yang kala itu masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya.

Sistem kerja alat Anti Galau ini dengan cara memasukkan air laut ke dalam reaktor elektrolisis. Kemudian aki yang telah menyimpan sumber energi dari konversi energi matahari panel surya dinyalakan.

Proses elektrolisis ini adalah proses pemecahan air menjadi ion H+ dan ion OH- yang dihasilkan dari arus listrik yang dihantarkan menuju elektroda sebagai media reaksi. Dalam hal ini, media aki yang dipilih menjadi arus penghantar listriknya.

Untuk diketahui, air laut memang memiliki kadar Na+ dan Cl- yang relatif tinggi sehingga proses menghasilkan gas hidrogen dapat berlangsung maksimal.

Kembali pada prosesnya, setelah air laut dimasukkan, tunggu proses reaksi selama sekitar 15 menit sampai muncul gelembung-gelembung udara di sekitar elektroda di dalam reaktor. Gelembung-gelembung itu menandakan proses elektrolisis telah berlangsung.

Kemudian alat yang telah tersambung dengan selang itu dihubungkan ke wadah penyimpanan untuk menampung gas hidrogen.

‘’Gas hidrogen tersebut selanjutnya dapat dimaksimalkan sebagai biofuel pengganti bagi kendaraan bermotor maupun mesin-mesin yang proses kerjanya bergantung pada BBM,’’ ungkap Ari dikutip dari situs UB Prasetya Online pada 22/7/2014 (h/t Generasimudaid.com).

Penggunaan gas hidrogen sebagai bahan bakar itu sedikitnya memiliki dua keunggulan. Pertama, tidak menimbulkan emisi. Kedua, proses pembuatannya mudah dengan bahan baku yang melimpah.

2016, Electrical Ocean Boat

Lagi-lagi alat pengubah air laut menjadi bahan bakar ini adalah hasil karya mahasiswa. Hanya saja alat ini dikhususkan untuk bahan bakar kapal, sesuai dengan namanya.

Abyan Faris Putranto, Khalif Aji Puspito, Achmad Taufik Rendi, Rifki Putra Heminanto, dan Halimah Puspitasari, adalah lima mahasiswa Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dibalik penemuan alat ini. Penemuan ini diawali dengan kesadaran mereka akan tingginya kadar Natrium Klorida—yaitu larutan garam elektrolit—pada air laut, yang dapat digunakan sebagai tenaga alternatif.

Cara kerja alat ini adalah air laut akan memenuhi kuadran alat sebesar 3×3 meter yang nantinya akan melalui proses elektrolisis menggunakan anoda dan katoda. (Proses ini hampir mirip dengan Anti Galau yang sebelumnya dijelaskan.)

Hanya saja proses elektrolisisnya menggunakan tembaga dan seng yang akan menghasilkan tegangan dan arus yang disimpan di baterai kering nikel metal hybrid. Kemudian tegangan tersebut yang nantinya akan menggerakkan baling-baling dan propeller kapal, sehingga kapal dapat melaju.

Dari tiap satu kuadran, listrik yang dihasilkan adalah 30 volt dan dari sini mereka berlima mengklaim bahwa ini akan memberikan keuntungan kepada nelayan hingga Rp15 juta per tahun. Ini karena biaya operasional yang lebih murah dan angka tersebut adalah angka yang kerap dikeluarkan nelayan untuk biaya operasional saat menggunakan solar sebagai bahan bakar.

Bagaimana tanggapan Kawan GNFI tentang penemuan teknologi ini? Apakah kita benar-benar bisa menggunakan air laut sebagai bahan bakar alternatif di masa depan?

Sumber: Okezone | Republika | Generasimudaid.com | Liputan6 | Surabaya Tribunnews

Baca Lagi:





Sumber