kisah Raffles

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Ini adalah kisah unik dari tulisan seorang profesor di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam, International Islamic University Malaysia, A Murad Merican. Tulisan ini sempat dimuat beberapa waktu lalu di media masa  New Straits Times.

Mengapa menarik? Jawabnya karena menyoal apakah Stamford Raffles layak disebut sebagai bapak pendiri Singapura. Ataukah justru dia merupakan symbol koloniliasme barat di Singapura dan wilayah lain di tanah Melayu?

Si penulu skemudian mengutip seseroang yang bernama Alfian saat yang meneriakkan ‘Merdeka’ bagi Alfian sebagai pengingat yang tepat bagi  Singapura yang tengah haus sejarah. Dan kalimat merdeka ini punya implikasi bagi sejarah Singapura yang harus putus dengan Barat, serta membuat pertanyaan mengapa sosok Raffles harus jatuh.

Kata ‘merdeka’, yang berarti kemerdekaan, telah menarik minat untuk melihar ke masa lalu Singapura. Selama ini imajinasi kepada karakter Sir Stamford Raffles terkesan selalu bersih dan mulus sehingga menutupi persoalan ketegangan atau bahkan kekelaham yang terjadi di belakanya. Bahkan, kesan tegangan ini makin menjadi saat kelompok ini, mengambil jargon “Raffles Must Fall” (Raffles harus jatuh) yang terinspirasi oleh gerakan pasca-apartheid “Rhodes Must Fall”, yang digaungkan di Universitas Cape Town, Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan sana, kemarahan atau ketegangan atas sosok itu diarahkan ke patung Cecil John Rhodes yang mereka sebut sebagai penjajah Afrika. Tak hanya itu, kampanye untuk pemindahan patung John Rodes ini menyebabkan gerakan yang lebih luas untuk mendekolonisasi pendidikan di seluruh Afrika Selatan dan juga kemudian mendapat perhatian dari  seluruh dunia. Padahal sebenanrya seruan merdeka atau kampanye dekolonisasi itu bukan yang pertama. Tahun 1950 hal ini telah diteriakkan oleh para siswa pribumi Afrika (Afrikaner).

Kembali di Singapura, patung Raffles kini masih berdiri. Bahkan telah ada penyedian dana hingga sekitar 200 juta Dolar AS  menggelar acara peringatan 200 tahun kolonialisme Singapura. Ini misalnya terjejak dalam pengantar buku ‘Seven Hundred Years: A History of Singapore, kaya Kwa Chong Guan dan kawan-kawan yang bertujuan hendak mempelajari atau menelusiri penulisan sejarah Singapura. Mereka mulainya dari catatan sejarawan yang selama ini menyatakan bahwa “Singapura Modern dimulai pada tahun 1819. Jadi sebelum masa tersebut dianggap tidak ada yang hal penting atau memiliki relevansi khusus untuk pemahaman tentang adegan sejarah kontemporer. Akibatnya, Singapura bersama sejarahnya hanya terlihat semata seperti melihat barang antik ”.

The History of Java by Thomas Stamford Raffles

Profesor Sejarah Raffles di Universitas Singapura, Tregonning, misalnya telah menyuarakan akan membuat deklarasi untuk memperingati 150 tahun Raffles di Singapura itu. Hasilnya, pernyataan Tregonning mewakili ideologi yang saat ini berlaku yang dipegang oleh para sejarawan masa lalu Singapura dalam beberapa waktu terakhir ini.

Padahal, kalau mau jujur, model sejarah kawasan  ini ternyata tidak hanya soal sejarah Singapura belaka, tetapi juga tentang sejarah Pulau Pinang, atau bahkan seluruh Malaysia, serta wilayah terkait lainnya.  Ini sesuai dengan sikap ‘bapak Singapura’
S. Rajaratnam yang menghubungkan bahwa awal sejarah Singapura berasal dari sepenuhnya dengan kedatangan Raffles. Katanya: “Tampaknya tidak banyak yang terjadi di Singapura … sebelum Raffles mendarat di tanah yang tidak menjanjikan ini.”

Bagi Raffles sendiri dia sepertinya memang melihat Singapura sebagai “ibukota maritim kuno orang Melayu”, yang tampaknya ditinggalkan selama 600 tahun sebelum ia tiba. John Crawfurd, yang menjadi residen kedua Singapura, dalam Kamus Deskriptif Kepulauan India & Negara Berdekatan tahun 1856 menyatakan: “Untuk jangka waktu lima abad setengah, tidak ada catatan Singapura telah diduduki, dan itu hanya sesekali menadi resor (tempat tinggal) bajak laut. ”

Lalu kaitan Singapura yang kemudian sejarahnya dibawa menjadi ibu kota British Malaya pada tahun 1919, kemudian dirinci oleh satu generasi mahasiswa di Jurusan Sejarah Universitas Malaya, yang didirikan pada tahun 1949. Kisah-kisah dari East India Company (EIC) dan catatan Kantor Kolonial mereka anggap layaknya mantra atau kebenaran suci. Ini misalnya Kisah yang ditulis Turnbull tentang sejarah Singapura dari 1819-1975 yang mana telah berhasil membingkai sejarah Singapura sebagai hasil positif dari kolonialisme Inggris. Raffles dalam kajian ini adalah bapak pendirinya. Jadi ini fakta atau Fiksi?

Nah, usaha banyak  orang memang telah berusaha membebaskan diri dari teka-teki itu. Menerima templat atau model kajian atas sosok Raffles itu sebagai fakta sejarah itu sendiri memang memalsukan masa lalu. Yang pasti ada banyak jalan ke masa lalu. Narasi sejarah juga merupakan argumen. Arsip kolonial tentu saja bias. Bahkan mereka mereka cenderung meremehkan. Apa sebabnya? Karena kekerasan yang kerap dilakukan Raffles di masa lalu ketika dia melakukan penaklukan di kawasan itu, Sumatra bahkan Jawa.

Khusus orang Indonesia, mereka ingat bahwa Raffles pernah menjabat sebagai penguasa atau Gubenur Jendral Hindia Belanda pada 1809-1815. Sultan Hamengku Buwono beserta orang Jawa di Jogja masih mengingat sekali ketika balatentara Inggris yang dipimpin Raffles merampok kraton Kesultanan Mataram Jogja habis-habisan. Peristiwa ini dikenal dengan sebuatan ‘Geger Sepehi’.

Kala itu, Raffles bersama pasukannya yang dipimpinnya tak hanya merampok benda berharga saja, mereka memetreli kancing baju kebesaran Sultan yang terbut dari intan. Mereka juga menjarah kawasan ‘Kaputen’ (tempat tinggal permesuari dan putri raja) hingga intan sebesar jempol kaki yang disembunyikan para puteri kraton yang disembunyikan di sumur dirampas oleh bala tentara Raffles yang dibantu legion Gurkha itu.

Sultan Hamengku Buwono X pun menyebut penyerangan yang dilakukan dengan cara menaiki tembok benteng kraton yang dibantu kalangan pendatang Timur Asing dengan menyediakan tangga itu, dilakukan dengan ganas.” Sebanyak 40 pedati yang berisi buku-buku atau naskah Jawa diangkut dari Kraton Jogja dibawa ke Semarang sebelum di kapalkan ke Inggris oleh Raffles. Kini naskah kuno Jawa tersimpan di British Musseum,’’ kata Sultan suatu ketika. Dan orang dalam hal ini kemudian mengenalnya atas dasar naskah itu Raffles kemudian menyusun buku legendaris ‘Histori of Java’.

Kemarahan SultanYogyakarta sampai kini kemudian masih terjejak dengan terjadinya perpecahan dalam Kraton Jogja yang kemudian memunculkan kraton baru yang dikenal sebagai Puro Pakualaman. Untung saja perpecahan itu semasa datang kemerdekaan Indonesia luruh, kedua kerajaan saling berbesar hati yang mana kemudian dikenal raja dari dua kraton itu menjadi pasangan pemimpin dari Darah Istimewa Yogyakarta.

Kembalinya Naskah yang Dijarah Raffles di Pameran Naskah Keraton ...

  • Keterangan gambar: Suasana pertempuran ‘Geger Sepehi’. Terlihat bala tentara Inggris yang didukung legiun Gurkha (orang Jawa menyebutnya sebagai Sepehi/Sepoy) tengah menghancurkan tembok benteng Kraton.
     

Maka menjadi masuk akal dan bisa dimengerti bila Stamford Raffles oleh mendiang cendekiawan muslim dan sosiolog kondang kelahiran Bogor yang kemudian tinggal di Malaysia, Syed Hussein Alatas menolak pandangan Raffes sebagai ‘Manusia Hebat Dalam Sejarah’ . Dalam bukunya yang  baru-baru ini diterbitkan ulang: Schemer or Reformer? (pertama kali diterbitkan pada tahun 1971) dengan pengantar oleh putranya, sosiolog Nasional Universitas Singapura, Syed Farid Alatas, sikapnya terhadap Raffles bisa terlihat.

Dan memang, para penulis Seven Hundred Years: A History of Singapore, tetap memberikan pandangan ideal tentang masa lalu Raffles. Sejarah Singapura tetap dimulai pada tahun 1819 saat awal kaki Raffles yang menginjak tanah itu yang dulu oleh orang Melayu lzim disebut Tumasik. Tak ayal lagi meski seorang kolonialis dia tetap dianggap sebagai bapak pendiri Singapura.

Memang dalam soal patung para kolonialis di tanah Melayu hingga kini patung mereka masih banyak yang berdiri. Patung seorang kapten tentara Inggris, Francis Light, yang menaklukan kawasan Pulau Pinang pada tahun 1786 masih tetap berdiri.  Juga patung pejabat Residen Jendral pertama negeri-negeri Melayu yang dijabatnya dari 1 juli hingga tagun 1901, Frank Athelstane Swettenham, masih berdiri di depan museum negara Kuala Lumpur. Bahkan patung Raja Inggris, Edward VII juga masih ada di lokasi yang sama. Ini tentu paradoks dengan situasi Malaysia Merdeka yang kini sudah 63  tahun.

Maka wajar bila A Murad Marican dalam tulisannya kemudian menyatakan memang kolonialisme tidak akan pernah jinak. Orang-orang tetap akan meningatnya, seperti kasus pembantaian yang dilakukan Raffles wilayah lain, seperti di Jawa itu tadi, di Palembang, bahkan dan Banjarmasin. Aksi brutal ini jelas merupakan tindakan kriminal dari sebuah negara kolonial.

Pada soal pembantaian Raffles di Palembang misalnya, ada sebuah surat dari Raffles untuk pemusnahan orang Belanda yang berbunyi, “… buang habiskan sekali-kali semua orang Belanda dan Residentnya … Jangan kasih tinggal lagi (… harus membuang, selesaikan seluruhnya semua orang Belanda dan penduduk mereka … Jangan biarkan mereka tinggal). ”

Jadi pertanyaannya, Raffles itu seorang pahlawan atau sosok penjajah?



Sumber