JawaPos.com – Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunadi Sadikin meminta perusahaan pelat merah mengambil bahan baku baja proyeknya dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Hal tersebut juga untuk mendorong sinergi antar BUMN dan perekonomian nasional.

Budi menyampaikan, hal senada juga telah disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengimbau agar lembaga di bawahnya terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam setiap proyek mereka.

“Pak Luhut paling suka panggil Pertamina, terus beliau tanya, ini gimana, belinya dari siapa, bajanya dari Tiongkok apa enggak?” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/7).

Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) menggandeng Perusahaan Galangan Kapal BUMN yang tergabung dalam Klaster Industri Manufaktur (KIM) yaitu PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) serta PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Sinergi tersebut dilakukan dalam rangka pembangunan dan pemeliharaan atau perawatan kapal milik Pertamina.

“Jadi, saya juga titip Pak Harry, kalau ini sudah dikasih proyek sama Ibu Nicke ya kalau bisa belinya (baja) dari Krakatau Steel,” ucapnya.

Budi menjelaskan, jika harga baja yang ditawarkan Krakatau Steel tak sesuai dengan budget, maka dapat dilakukan negosiasi. Namun, jika tidak menemui kesepakatan, maka pemerintah sebagai regulator akan menengahi.

Sementara itu, Direktur Utama Barata Fajar Harry Sampurna mengatakan, pihaknya sudah berkomitmen untuk membantu pemerintah meningkatkan TKDN. Perseroan juga telah menyepakati kerja sama dengan Krakatau Steel terkait pengerjaan beberapa proyek.

“Kami sebelumnya telah tandatangan dengan KRAS, jadi semua baja dari KRAS,” ucapnya.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan, pihaknya pun terus berupaya memenuhi aturan batas minimal TKDN seperti yang tertuang dalam beleid yang telah diterbitkan pemerintah. Ia memastikan TKDN di proyek perseroan sudah mencapai 32-35 persen.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri



Sumber