MANADOPOST.ID–Perahu asal Matahit yang sempat dinyatakan hilang dua pekan lalu, akhirnya ditemukan. Dari informasi yang di rangkum 25 Juni lalu, perahu yang memuat 4 orang tersebut, berangkat dari Desa Kawaluso Kecamatan Kendahe Kabupaten Sangihe menuju Desa Matahit Kecamatan Beo Selatan, namun tak kunjung sampai sehingga membuat pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud Boni Fasius mengatakan, saat mendapatkan laporan dari warga langsung melakukan pencarian. Namun saat ini perahu yang sempat hilang dua pekan lalu sudah di temukan.

“Saat melakukan pencarian, kami mendapatkan laporan dari Bhabinkamtibmas Desa Panulan Brigpol Oksan Mengga bahwa di Desa Pangeran telah terdampar sebuah perahu dengan 3 orang penumpang, dan itu perahu sama yang kami cari,” jelasnya.

Menurut dia, untuk nama identitas orang yang sempat hilang bernama Simson Buambitun (52), Dandi Kristian Buambitun (20),Fijai Tobangin (20), Nopeldi Luas 34.

Dia menceritakan, berdasarkan keterangan dari Simon Buabintun yang juga selaku engineer kapal, cuaca tidak berombak tapi berarus dan mengakibatkan perahu terbalik sehingga perahu dipenuhi air. “Sehingga mereka berusaha untuk menguras air di dalam perahu namun karena kekurangan tenaga, air tidak dapat dikuras seluruhnya sehingga perahu masih setengah tenggelam,” katanya, mengutip cerita Simon Buabintun.

Lanjut Fasius, pada hari Jumat 26 Juni sekitar pukul 02.00 Wita, cuaca tidak bersahabat karena turun hujan, Simon selaku orangtua dari Dandi Buambitun yang pada saat itu tidur di atap perahu menyuruh anaknya untuk masuk kedalam perahu.

“Akan tetapi pada pukul 04.00 dini hari, Dandi Buambitun sudah tidak ada. Karena melihat Dandi tidak ada di atap, Simon (orangtua korban) turun ke dalam perahu dan menanyakan kepada kedua temannya di dalam perahu. Akan tetapi Dandi sudah tidak ada, kemungkinan terjatuh dari atas kapal karena sudah lemas,” ungkapnya.

Sambung Simon Buabintun ayah korban. Dia mengatakan, saat mengetahui Dandi tidak ada dalam kapal, dia sudah tidak mencari anaknya, karena pada waktu itu tidak ada penerangan dan senter rusak, sehingga memutuskan untuk berusaha menguras seluruh air yang ada di dalam perahu supaya tidak tenggelam.

“Kami baru bisa menguras air di dalam kapal selang 5 hari dan berusaha untuk mencari pulau terdekat namun karena tenaga sudah mulai lemas. Kami pasrah dan menunggu bantuan, karena sudah sekitar 7 hari belum makan. Kami mencoba bertahan hidup hanya memakan kelapa yang terapung dan meminum air laut,” sebutnya.

Namun setelah beberapa hari, baru melihat Pulau Kabaruan. “Saat melihat pulau saya bersama kedua rekan saya membuat layar dari terpal dan berusaha untuk menepi dan mencari pertolongan dan akhirnya tiba di Desa Panulan dan mendapatkan bantuan dari masyarakat Desa Panulan,” pungkasnya.(cw-02/ite)





Sumber