Eco Action Cara Keren TN Kep. Seribu Sikapi Pemulihan Ekosistem di Masa COVID-19
“`figure_image
{“alt”:””,”caption”:”Paruh penyu sisik dilihat dari jarak dekat dengan bentuk mulutnya yang khas seperti paruh burung jenis raptor Elang, sehingga penyu ini diberi nama hawksbill turtle. Foto: Wikipedia”,”hash”:”0hPefTmz8KD0pbLSfJiVFwHWF7DCVoQRxJPxteVAtDUX4iSU1JMEgTf3ckV3N2TkgUNUNHKXotFHskHkgdYEsT”,”quality”:0,”style”:0}


“Semenjak ditutup, pada beberapa lokasi yang sebelumnya ramai dikunjungi wisatawan, kini, selama penutupan kawasan guna pencegahan penyebaran COVID-19, telah ditemukan penyu bertelur. Seperti di kolam labuh dan di depan home stay Pulau Pramuka,� kata Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) Badiah, saat virtual workhsop yang diselenggarakan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada Selasa (12/5). Menurut Badiah, melalui sambungan ponsel, pada Sabtu (13/6), menceritakan, sebelumnya, penyu tersebut, biasanya tidak pernah bertelur dekat home stay di tempat yang dikenal warung koneng, di Pulau Pramuka. Setidaknya, Balai TNKpS, tiga kali menemukan gundukan pasir tempat penyu bertelur. Selain di dua tempat tersebut. Ada juga di tempat biasa wisatawan banyak berkemah di Pulau Semak Daun, yang kini justru ramai didatangi penyu untuk bertelur. ```figure_image {"alt":"","caption":"Kawasan Wisata Edukasi Mangrove, TN Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka, Sebelum Terjadinya Pandemi Corona. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia","hash":"0hy_11roj6JnAMSA7z3gRZJzYeJR8_JDVzaH53blwmeER1LGRzZy46RSBIe0YiemEuYnlhFC9JPUFze2EnNy86","quality":0,"style":0}

Menariknya lagi, selain penyu sisik, menurut Badiah, jenis penyu lain juga kini ditemukan pada masa sebelum pandemi COVID-19 terjadi, yaitu penyu hijau.

Tidak ada kunjungan wisatawan, benar-benar sangat berpengaruh terhadap kondisi lingkungan kawasan. Memulihkan penyu untuk mendaratkan telur-telurnya di pulau-pulau yang sebelumnya sangat ramai. Terjadi peningkatan sekitar 30% dari pulau-pulau tersebut.

Jadi, dapat dikatakan, pandemi COVID-19, ternyata banyak menyimpan cerita positif bagi pemulihan ekosistem. Salah satunya sebagaimana yang terjadi di TNKpS, Jakarta. Penutupan kawasan sementara yang sudah berlangsung selama tiga bulan dari kunjungan wisatawan, telah meningkatkan pendaratan penyu untuk bertelur dan kesehatan terumbu karang.

{"alt":"","caption":"Tukik telur penyu sisik yang baru keluar dari telurnya. Foto: instagram/tnkepualaunseribu.","hash":"0hndN15QCQMUtzSBnIoSZOHEkeMiRAJCJIF35gVSMmb38KLHNIGCx2fl9IbC4Ne3YVHSZ5K15OKnoMe3YcSC12","quality":0,"style":0}

“Secara ekologi, ekosistem perlu diberi waktu untuk merecovery dirinya dengan penutupan kawasan sementara. Saat ini adalah merupakan waktu yang digunakan oleh alam untuk memulihkan dirinya, Natural recovery menuju kondisi keseimbangan alam yang lebih optimal,” kata Badi’ah.

Jumlah volume sampah di kawasan TNKpS, juga mengalami penurunan hingga 50%. Sebelumnya, sampah yang dihasilkan mencapai 777 ton. Saat ini, tiga bulan selama penutupan sementara kawasan, sampah yang ditimbulkan turun hingga 350 ton.

Badiah juga menambahkan, lalu lalang kapal pun selama penutupan kawasan juga otomatis berkurang. Hal ini berimbas dengan kondisi laut yang menjadi lebih bersih dan jernih. Ikan-ikan juga jadi lebih mudah didapat atau lebih banyak.

{"alt":"","caption":"Penyu Sisik di Kolam Habituasi Pulau Pramuka, TN Kepulauan Seribu. Foto: instagram/tnkepualauanseribu","hash":"0hyeLDtoghJkpxPQ7Jo0pZHUtrJSVCUTVJFQt3VCFTeH4IWWRJGlhof10_Ly9fWGEUHwxhKFU_PXsODmEdSlto","quality":0,"style":0}

“Saya sih sebenarnya memang belom melakukan observasi secara langsung, tetapi, dari cerita rekan-rekan yang bertugas, mereka mendapatkan ikan lebih banyak. Mungkin, karena sedikitnya gangguan. Karena sepi, tidak ada lalu lintas kapal. Walaupun, kami belum bisa mengklaim, pengaruhnya sepenuhnya, karena hal ini juga tergantung dengan kondisi kesehatan terumbu karangnya dan pengaruh musim. Jadi, itu hanya indikasi-indikasi saja,� kata Badiah.

Eco Action

Penutupan sementara kawasan TNKpS, sangat berpengaruh terhadap semua aktivitas dan aspek kehidupan masyarakat yang tinggal di Kepulauan Seribu Utara – didominanasi perikanan dan pariwisata alam.

{"alt":"","caption":"Sarang telur penyu pada masa pandemi COVID-19 saat kawasan TNKpS ditutup untuk kunjungan wisata, salah satunya ditemukan di Pulau Pramuka. Foto: Balai TNKpS","hash":"0hmx4jtRdpMlcJExrU22RNADNFMTg6fyFUbSVjSVl9bGNwd3BUYnZ8YiUWazIlJnUJZyJ1NS8WKWZ2IHUAMnV8","quality":0,"style":0}

Secara administratif, TNKpS, berada di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Provinsi DKI Jakarta. Dengan jumlah penduduknya mencapai hingga ± 15.260 jiwa. Sebagian besar menggantungkannya kehidupannya dari bidang usaha wisata dan hasil perikanan.

Sebagaimana diketahui, Provoinsi DKI Jakara, merupakan salah satu pusat epicentrum penyerbaran COVID-19 di Indonesia. Tidak heran, jika hal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap kawasan TNKpS.

Melihat adanya sinyal-sinyal pulihnya ekosistem kawasan taman nasional dan juga dampak ekonomi pada masyarakat, Balai TNKpS, melakukan program pemulihan ekosistem karang dengan melibatkan masyarakat yang disebut Eco Action.

“Pada umumnya, orang-orang memberikan bantuan berupa sembako dan alat pelindung diri atau APD atau uang. Sedangkan kami, Balai TNKpS, belajar dari alam. Dimana saat pandemi COVID-10, seolah ada alert dari alam, untuk memberikan waktu kepada mereka memulihkan dirinya. Sehingga bantuan kami kemas sebagai eco action, berupa transplantasi karang yang secara ecologi membantu mempercepat pemulihan ekosistem karang yang menjadi daya tarik di taman nasionak dan secara ekonomi memberi pekerjaan kepada masyarakat�, papar Badiah.

{"alt":"","caption":"Eco Lodge Pulau Macan, Salah Satu Destinasi Wisala Alam di TN Kepulauan Seribu. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia","hash":"0hdd9x5FF1O0sEARPI1klEHD5XOCQ3bShIYDdqVVRvZX99ZXlIb2cjfigFbHN8NnwVajB8KCkGIHp7MnwcP2Yj","quality":0,"style":0}

Pelibatan masyarakat secara langsung, karena sesuai dengan hasil survey yang dilakukan tim Balai TNKpS, dimana banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan – paling terdampak pemandu dan nelayan tangkap.

Menurut Badiah, melalui Eco Action, diharapkan dapat menciptakan multiplier effect. Diantaranya, mengganti penghasilan yang hilagn karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan penutupan kawasan, membangun collective awareness, memperbaiki daya tarik wisata, dan dalam jangka panjang memperbaiki produksi perikanan.

Dalam pelaksaannya, pembuatan media transplantasi karang, menggunakan model beton. Semuanya dikerjakan oleh masyarakat. Salama 10 hari, pada pertengahan Mei, berhasil dibuar 50 buah media transplantasi.

{"alt":"","caption":"Pembuatan media tranplastasi karang dari beton yang dilakukan oleh masyarakat. Foto: Balai TN Kepulauan Seribu","hash":"0heh4vuEzqOkcJDxLE20FFEDNZOSg6YylEbTlrWVlhZHNwa3hEYml9ciUPYXB0bX0ZZz59IiQMIXZ2PH0QMmh9","quality":0,"style":0}

Kemudian, media transplantasi tersebut dimasukkan ke dalam laut dengan cara dicemplungkan. Cara ini dilakukan, karena pada waktu itu masih bulan Ramadhan, dimana masyarakat Kepulauan Seribu, sebagaimana umat muslim lainnya di dunia, juga berpuasa. Sedangkan, orang-orang pulau masih mempunyai keyakinan, kalau menyelam dapat membatalkan puasa.

“Jadi, waktu itu, kami menyiasatinya dengan pembuatan modulnya saja. Selain itu, perluasan eco action sebagai bantuan ini, kami scalling up untuk beberapa spot diving�, kata Badiah.

Sebelum mengakhiri pembicaraaan, Badiah, mengatakan, secara ekonomi, masyarakat, terutama pemandu akan dilatih untuk pembuatan bisnis plan yang baik, seperti simpanan misalnya.

Simpaan tersebut juda bisa dihasilkan dari virtual tour yang didesign dengan baik, untuk saat-saat penutupan kawasan atau kalau terjadi bencana, seperti yang terjadi saat ini, bencana non alam Pandemi COVID-19.

{"alt":"","caption":"instagram/tnkepualaunseribu","hash":"0hOv3NpX5hEFkONzja3EFvDjRhEzY9WwNaagFBR15ZTm13U1JaZVJfbCI0GmtxUlcHYAZXOyk_C2hxBFcONVFf","quality":0,"style":0}

Pada kesempatan virtual workhsop, Wiratno, selaku Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) – KLHK, mengatakan, bahwa, taman nasional laut di Indonesia mempunyai keunikan masing-masing dan perlu adanya kegiatan yang fokus riset untuk ekowisata.

“Di masa pandemi COVID-19 seperti ini, membangun organisasi pembelajar yang belajar dari alam, menikmati alam, juga mempelajari dan memahami serta melestarikan alam� kata Wiratno.

Nah, untuk kamu, yang sudah rindu untuk menyambangi TNKpS, tetap harap bersabar dulu. Ada saatnya, nanti kamu dapat kembali bercengkerama dengannya. Atau mungin, nanti bisa ikut bersma-sama melakukan kegiatan tranplantasi karang di TN Kepualauan Seribu.





Sumber