loading…

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merombak jajaran direksi PT Pertamina (Persero). Melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar secara virtual, Nicke Widyawati dipercaya kembali memimpin BUMN migas itu. Kementerian BUMN juga memutuskan untuk mengurangi jumlah direksi Pertamina dari 11 orang menjadi enam orang.Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pertimbangan perampingan struktur termasuk pengurangan jumlah direksi Pertamina itu agar perusahaan tersebut lebih fokus pada strategi bisnisnya. “Rencana besar kita konsisten. Pertama, kita mau memastikan semua BUMN fokus bisnisnya,” tegas Erick di Jakarta kemarin.

Selain Nicke, direksi lain yang ditetapkan adalah Direktur Portofolio Strategi dan Pengembangan Usaha Iman Rachman, Direktur Keuangan Emma Sri Martini, Direktur Human Capital (SDM) Koeshartanto, Direktur Logistik dan Infrastruktur Terintegrasi Mulyono, serta Direktur Corporate Services Haryo Yuniarto. Sementara dewan komisaris tak mengalami perubahan. (Baca: Ini Alasan Erick Pangkas Jumlah Direksi Pertamina)

Erick mengatakan, perampingan struktur tersebut juga dikarenakan Kementerian BUMN akan membentuk subholding. Agar induk usaha lebih fokus dalam menjalankan bisnisnya, maka jumlah direksi harus disesuaikan. Dengan demikian, Pertamina dapat membangun bisnisnya dengan lebih baik lagi. “Yang di holding itu direksinya harus enam. Enggak boleh kebanyakan,” ucapnya.

Menurut Erick, dengan posisi Pertamina sebagai holding, maka anak dan cucu usaha perusahaan migas pelat merah tersebut akan dikonsolidasikan.”Sudah ada edaran, anak-cucu holding (Pertamina) itu harus dikonsolidasikan. Saya ingin memastikan tidak ada raja-raja kecil lagi,” ujarnya. (Lihat Foto: Kebakaran Lahan Gambut di Aceh Barat Meluas)

Dia memberikan contoh satu di antara anak usaha Pertamina yang memaksa untuk menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) sebelum RUPS induk usahanya. Seharusnya perusahaan induk yang melaksanakan RUPS lebih dulu kemudian disusul oleh anak perusahaan. “Ada anak usaha mau memaksakan RUPS sebelum holding-nya. Seharusnya holding-nya dulu, baru anak perusahaannya supaya policy jelas,” sambung Erick.

Dia menekankan pentingnya konsolidasi oleh perusahaan milik negara dan anak perusahaannya. Kementerian BUMN telah membuat surat edaran bahwa kebijakan-kebijakan dari holding, anak, dan cucu perusahaan harus dikonsolidasikan. (Baca juga: Sehari Ada 13 warga Bogor Raya Positif Covid-19)

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi mendukung langkah Erick Thohir memangkas dewan direksi di PT Pertamina (Persero). Perampingan direksi tersebut dinilai akan membuat Pertamina lebih efisien sehingga fokus sesuai tujuan bisnisnya sebagai holding migas.

“Pemangkasan direksi ini telah sesuai dengan tujuannya sebagai holding. Jadi saya kira tepat karena Pertamina akan lebih sesuai kepada core business dan tentunya akan lebih efisien,” ucapnya.

Keinginan pemerintah agar Pertamina melakukan restrukturisasi perlu direspons secara cepat oleh jajaran direksi baru dan segera melakukan konsolidasi. Restrukturisasi tersebut misalnya menyatukan seluruh anak usaha di hulu migas menjadi bagian dari subholding di bawah holding induk, yaitu Pertamina.

“Misalnya seluruh subholding di hulu di bawah Pertamina EP sehingga tidak jalan sendiri-sendiri. Lalu, kemudian, Pertamina EP sebagai subholding hulu migas Pertamina bertanggung jawab langsung kepada direksi Pertamina,” katanya. (Baca: Pakar Hukum Sebut Demokrasi adalah Ciptaan Asli dari Kapitalis)

Begitu juga di sektor hilir, bisa membentuk subholding anak usaha melalui Pertamina Niaga. Menurut Fahmy, subholding tersebut dapat diberikan mandat untuk melanjutkan program pembangunan kilang.

“Tapi, bisa juga Pertamina sebagai holding membentuk sub­holding khusus menangani program pembangunan kilang sehingga tidak perlu banyak direktorat. Ini akan lebih efisien,” paparnya. (Lihat Videonya: Warga Malang Dikejutkan Tagihan Kenaikan Listriknya hingga Rp20 Juta)

Di samping itu, Fahmy juga berharap seluruh bisnis Pertamina di luar bisnis intinya dapat dijual atau dimerger dengan perusahaan swasta. Dia mencontohkan bisnis hotel, rumah sakit, hingga penerbangan sebaiknya dilepas agar Pertamina fokus pada tujuan utama, yaitu sebagai perusahaan migas nasional.

“Anak usaha yang tidak sesuai core business seperti rumah sakit, hotel, ataupun penerbangan sebaiknya dilepas saja,” katanya. (Rina Anggraeni/Nanang Wijayanto)

(ysw)



Sumber