Menurut dia, buaya sempat menghilang dari kawasan Nusakambangan dan Laguna Segara Anakan usai kematian seekor buaya jumbo berukuran nyaris 4 meter pada Agustus 2019 silam. Anehnya, setelah itu, buaya-buaya lainnya pun lenyap tanpa terdeteksi keberadaannya.

Namun, bagi Kustoro kemunculan buaya di Kampung Laut tidak lah aneh. Kampung Laut dan Laguna Segara Anakan pada masa lalu memang habitat buaya.

Bahkan, hingga era 1970-an, perburuan buaya adalah hal biasa di Kampung Laut. Sosok yang dikenal piawai menangkap buaya adalah Kaki Sobari.

Dia dikenal sebagai pawang handal pada masa jayanya. Buaya dijual kulitnya dan dikonsumsi dagingnya.

“Terakhir mungkin sekitar 1975,” kata Kustoro.

Menurut dia, kemunculan buaya di Laguna Segara Anakan menunjukkan bahwa kawasan air payau dan mengrove memang menjadi habitat alami buaya. Di laguna dan hutan mangrove, buaya bisa memangsa ikan maupun hewan liar, semacam celeng.

Meski muncul sejak tahun lalu, tak pernah dilaporkan sekali pun buaya menyerang manusia. Kustoro menduga, sumber makanan buaya masih cukup sehingga tak agresif.



Sumber