loading…

JAKARTA – Di tengah banyaknya industri yang terpuruk akibat dampak pandemi corona (Covid-19), ternyata masih ada sejumlah industri di Tanah Air yang tahan banting. Salah satunya adalah industri kelapa sawit. Selain produknya dibutuhkan masyarakat, program B30 telah menyelamatkan industri ini.Meski mengalami sejumlah kendala, industri sawit tetap bisa beroperasi cukup baik hingga saat ini. “Selama pandemi hingga sekarang ini, kegiatan produksi on farm dan off farm berjalan normal. Ada pengaruhnya iya, tapi tidak signifikan,” kata ekonom Fadhil Hasan dalam zoom webinar bertema “Komoditas Sawit, Melangkah dengan Komitmen Berkelanjutan” pada Rabu (10/6/2020).

Fadhil Hasan, mengakui industri kelapa sawit memang mengalami pelambatan. Namun, fenomena tersebut bukan semata karena ada pandemi Covid-19. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab sehingga perkembangan industri sawit yang hingga kini belum berjalan baik.

Pertama, kekeringan yang cukup lama pada 2019 akibat fenomena el nino berpengaruh pada rendahnya kualitas buat sawit. “Panen akhirnya kurang baik sehingga mengurangi produktifitas sawit,” jelas Fadhil yang juga Direktur Corporate Affairs Asian Agri. (Baca: Moratorium Tak Bertaji, Lahan Sawit Terus Bertumbuh Tiap Tahun)

Faktor kedua, menurut Fadhil Hasan, harga komoditas sawit yang masih rendah pada 2019. Akibat rendahnya harga, para petani atau perusahaan melakukan berbagai efisiensi. Salah satunya dengan mengurangi pemupukan sekitar 30% sampai 40%.

Langkah ini akhirnya berdampak pada produktifitas hasil panen sawit. “Bagi perusahaan langkah efisiensi tersebut dilakukan dalam rangka menjaga cash flow agar tetap bisa beroperasi,” jelasnya.

Kegiatan produksi dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat, pergerakan tenaga kerja juga dibatasi. Dua faktor di atas, menurut Fadhil Hasan, membuat industri sawit mengalami pelambatan.

Sejak pandemi Covid-19, produksi sawit tidak terganggu. Mengapa? Alasannya, industri minyak sawit di Indonesia termasuk dalam kategori ‘essential economic activities’. Sehingga meski dalam masa pandemi, masih terus dibutuhkan masyarakat. Fenomena ini berbeda dengan Malaysia yang industri sawitnya terdampak Covid-19. (Baca juga: Indonesia Harus Serius Jaga Pasar Minyak Sawit di Asia Selatan)

Selain produksi berjalan relatif normal, ekspor sawit ke sejumlah pasar tradisional juga berjalan cukup baik. Fadhil mengakui terjadi penurunan permintaan sawit di beberapa negara, yakni China, India dan Pakistan.

Pengurangan permintaan dari China disebabkan karena Negeri Tirai Bambu ini menerapkan karantina wilayah sehingga sulit mendapatkan akses pelabuhan. Sedangkan India dan Pakistan lebih disebabkan karena harga minyak sawit tidak kompetitif. “India juga menerapkan aturan impor baru yang menghambat ekspor minyak sawit,” jelas Fadhil Hasan.

Fadhil Hasan mengapreasiasi pemerintah terkait dukungan dan komitmennya terhadap kebijakan B30. Saat ini, ada masalah dengan program B30 yang agak terhambat. Karena harga minyak mentah dunia yang jatuh dan Covid-19 menyebabkan biaya untuk menutupi selisih harga solar dengan biodiesel meningkat tajam.

Manurut Fadhil Hasan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan program B30. Yaitu dengan meningkatkan pungutan ekspor CPO menjadi USD55 per ton dari USD50 per ton sebelumnya.

Selain itu, pemerintah telah mengalokasikan anggaran negara sebesar Rp2,87 triliun untuk program tersebut. “Komitmen pemerintah terhadap program B30 ini telah menyelamatkan industri sawit,” ungkap Sawit.

Fadhil memperkirakan produksi sawit tahun 2020 sebesar 43,7 juta ton. Sedangkan ekspor minyak sawit (CPO) akan mencapai 27,5 juta ton pada 2020. “Angka ini menurun dibandingkan dengan produksi dan ekspor pada 2019 yang masing-masing sebesar 45,5 juta ton dan 28,5 juta ton,” paparnya. Untuk ke depan, memang diperlukan konsistensi pemerintah untuk berbagi beban dalam menjaga kelangsungan industri sawit.

Direktur Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri Bernard A. Riedo mengungkapkan komitmen Asian Agri menjaga keberlanjutan industri sawit. “Menjadi fokus industri sawit untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan saat ini dengan memperhatikan kebutuhan di masa yang akan datang dari sudut pandang ekonomi, lingkungan dan sosial,” kata Bernard. (Baca juga: Pasien Positif di Kabupaten Bulukumba Bertambah Dua Orang)

Selaras dengan filosofi Founder, Asian Agri berkomitmen untuk selalu berkontribusi terlebih dahulu terhadap kepentingan masyarakat, negara, dan lingkungan. (Dwi Sasongko)

(ysw)



Sumber