PARIS, iNews.id – Peneliti asal Prancis menyebut peluang vaksin Covid-19 sepenuhnya tersedia pada 2021 terbilang kecil. Sampai ada kepastian vaksin, dia menekankan pentingnya langkah social distancing sebagai upaya memutus penularan virus tersebut.

Sejak WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi pada Januari lalu, ada klaim para pasien Covid-19 dapat disembuhkan dengan mengonsumsi obat redemsivir atau obat anti-malaria Chloroquine. Akan tetapi, dua jenis obat tersebut tidak masuk dalam rekomendasi WHO diberikan untuk penderita Covid-19.

Terus bertambahnya kasus baru Covid-19 hingga menembus 12 juta di seluruh dunia mendorong para ilmuwan di sejumlah negara maju berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin. Amerika Serikat dan China mengklaim bisa mendapat vaksin Covid-19 paling cepat sebelum akhir tahun ini.

Sementara ilmuwan di WHO mengklaim tengah melakukan pengujian klinis terhadap formula vaksin dan memperkirakan bentuk sempurna vaksin bisa tersedia tahun 2021 mendatang.

Namun, menurut Arnaud Fontanet, anggota tim ilmuwan Prancis kecil kemungkinan ada vaksin yang efektif bisa mengatasi Covid-19 dalam kurun waktu setahun mendatang. Sebab dibutuhkan waktu lebih panjang melakukan tahapan penelitian sebelum vaksin dinyatakan siap diinjeksi pada manusia.

“Pengembangan vaksin butuh beberapa tahun,” kata Arnaud yang merupakan ahli epidiemiologi dikutip dari AFP, Senin (13/7/2020).

“Tentu saja, ada upaya yang belum pernah dilakukan dalam mengembangkan vaksin, tetapi saya akan terkejut jika kita memiliki vaksin yang efektif pada 2021,” tambahnya.

Banyak negara di dunia mulai melonggarkan aturan lockdown (penguncian wilayah) setelah berbulan-bulan dengan pertimbangan menghidupkan kembali perekonimian setelah terhenti selama lebih dari tiga bulan.

Arnaud melihat langkah ini sangat berisiko dan menempatkan ratusan juta manusia di dunia hidup bersama virus mematikan tersebut. Oleh karena itu, dia kembali menegaskan pentingnya jarak jarak dan menjalankan protokol kesehatan guna meminimalisir lebih banyaknya penularan.

“Musim panas ini setidaknya mari kita hormati jaga jarak fisik!.”

“Risiko munculnya cluster baru adalah di ruang terbatas, seperti kapal pesiar, kapal perang, ruang olahraga, diskotik, rumah pemotongan, akomodasi perumahan pekerja migran dan tempat-tempat ibadah,” ucapnya.

Pada Rabu pekan lalu, Pemerintah Prancis mengatakan tengah bersiap mengantisipasi ancaman gelombang kedua Covid-19. Alih-alih kembali memberlakukan lockdown, pemerintah malah melakukan langkah-langkah terukur seperti imbauan tetap di rumah dan penutupan aktifitas bisnis.

Prancis merupakan salah satu negara di Eropa dengan kasus Covid-19 tertinggi. Data Minggu (12/7/2020) kemarin memperlihatkan kasus infeksi Covid-19 di negara tersebut menembus 171.000 dengan angka kematian lebih dari 30.000.

Editor : Arif Budiwinarto



Sumber