Pertamina sebagai motor penggerak ekonomi harus bisa menekan angka impor bahan baku

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian BUMN meminta Pertamina untuk bisa meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Wakil Menteri I BUMN, Budi Gunadi Sadikin meminta Pertamina untuk bisa memperhitungkan spending belanja modal prioritas belanja dalam negeri.

Budi menjelaskan Pertamina sebagai motor penggerak ekonomi harus bisa menekan angka impor bahan baku. Ia mencotohkan dalam kebutuhan baja untuk bahan baku alat pengeboran mestinya Pertamina bisa bekerja sama dengan Krakatau Steel.

“Kalau bisa, Bu Nicke dimonitor bener spendingnya. Ini dipake dalam negeri, tapi diimpor semua. Nah, kalau bisa ini belinya pakai KS, kalau harga nggak cocok, panggil Pak Silmy. Jadi perbedaannya jangan banyak. Kalau banyak, ya kita minta regulator untuk atur harga. Kalau bisa ini semua muternya di dalam negeri,” ujar Budi dalam sambutannya acara kerja sama Pertamina dengan industri galangan kapal nasional, Selasa (14/7).

Budi bahkan tak menampik, Pertamina kerap dipanggil oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan. Budi mengatakan Luhut ingin semua proses pengadaan dan kebutuhan pertamina diakomodir dari dalam negeri.

“Pak Luhut tanya loh. Jadi gimana, belinya darimana bahan baku, jangan dari China aja. Jadi kalau bisa spendingnya ayo Bu Nicke dilihat hati-hati. Jangan apa apa dari luar negeri. Misalnya, korea pegang pipa. Masa nggak bisa bikin sendiri,” ujar Budi.

Ia mengatakan Pertamina bisa membangun kerja sama dengan industri dalam negeri agar roda ekonomi negara bisa terjaga di tengah pandemi ini. “Kalau komunikasinya baik, pasti bisa diperbaiki. Terima kasih Bu Nicke, jangan lupa beli baja dari KS (Krakatau Steel),” ujar Budi.



Sumber