Pemerintah diharapkan segera kembali membuat jembatan permanen bagi warga.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA–Petugas gabungan membuat jembatan darurat di Kampung Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (11/6) lalu. Hal itu terpaksa dilakukan setelah jembatan yang menjadi satu-satu akses sekitar 70 kepala keluarga (KK) di wilayah itu terputus akibat longsor yang terjadi pada Rabu (10/6).

Berdasarkan pantauan Republika di lokasi, jembatan darurat sepanjang sekira 30 meter itu dapat dilalui warga sejak Jumat (12/6) siang. Selain berjalan kaki, jembatan darurat yang terbuat dari bambu itu juga bisa dilalui kendaraan roda dua.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Irwan mengatakan, akibat putusnya jembatan yang tertimpa longsor pada Rabu dini hari, warga di dua rukun tetangga (RT) di Kampung Bugel ini sempat terisolasi. Namun pihaknya bekerja sama dengan Brimob, TNI, dan masyarakat, untuk membangun jalan darurat dari bambu.

“Alhamdulillah sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, sehingga lalu lintas bisa kembali berjalan,” kata dia kepada Republika di lokasi kejadian.

Ia menambahkan, longsor di wilayah itu tak hanya memutus jembatan yang menjadi akses warga satu-satunya. Longsor juga menutup dua saluran air yang biasa digunakan sebagai sarana air bersih dan irigasi sawah. 

Saat ini, petugas gabungan masih melakukan pembersihan dan membuat saluran baru agar jalur air kembali lancar. “Soalnya itu untuk keperluan masyarakat dan lahan pertanian,” kata dia.

Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, longsor yang terjadi di lokasi itu bukan merupakan yang pertama kalinya. Irwan menyebutkan, sudah terjadi tiga kali kejadian tanah longsor di titik itu.

Ia menjelasan, kawasan itu merupakan daerah yang tanahnya labil. Karena itu, ia menyarankan agar pemerintah desa agar memindahkan jalan, sehingga tidak kembali terputus longsor di kemudian hari “Kepala desa juga sudah sepakat. Jadi nanti jalan ini hanya jadi alternatif,” kata dia.

Salah seorang warga yang sempat terisolasi, Yati (36 tahun) mengaku terbantu dengan jembatan darurat yang dibuatkan oleh aparat. Sebab, sejak longsor memutus jembatan, aktivitas warga sama sekali terhenti. “Sebenarnya ada akses lain, tapi lewat sawah. Rawan longsor. Jadi dua hari kemarin saya tidak bisa ke mana-mana,” kata dia.

Menurut dia, adanya jembatan darurat itu sangat membantu aktivitas warga. Meski hanya sementara, setidaknya warga tak lagi terisolasi. Yati berharap, pemerintah dapat kembali membuat jembatan permanen untuk warga. Dengan begitu, warga tidak merasa takut untuk melintasi jembatan, apalagi ketika malam hari. “Soalnya kalau jembatan kayu seperti ini agak ngeri. Tapi mau bagaimana lagi, Ini akses satu-satunya,” kata dia.

Salah seorang warga lainnya, Siti Khodijah (34) mengaku hanya diam di rumah sejak jembatan yang menghubungkan kampungnya terputus longsor. Namun, adanya jembatan darurat dianggap sangat membantu warga yang sebelumnya sempat terisolasi.”Dengan adanya jalan ini kita sangat bersyukur. Bisa jalan lagi kendaraan,” kata dia.

Siti berharap pemerintah dapat membuatkan jembatan permanen. Ia menambahkan, sebaiknya jembatannya dipindah ke lokasi laim, sehingga tak lagi tertimpa longsor.

Kepala Desa Bugel, Ruhimat mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk memindahkan akses jalan warga. Menurut dia, ada akses jalan lainnya yang sudah lama tak digunakan oleh warga dan banyak tertutup tumbuhan. Menurut dia, lokasi jalan itu memang lebih jauh, tapi lebih aman.

 



Sumber