Kita Lupa Tuhan Menciptakan Luka - Part 2: Kamu Sebuah Rindu
figure_image
{"alt":"Kamu Sebuah Rindu","caption":"","hash":"0h-N8-HKuXcmEFVFsDyfMNNj8CcQ42OGFiYWIjf1U6LFV_ZTFlOWU8DyZUflgsYDU_bDE1BilTaVB6YTVjMGY8","quality":0,"style":0}

Mungkin waktu tidak selamanya mengajarkan rindu. Maafkan aku yang berkata demikian. Bukan karena tidak rindu, hanya takut melabuhkan rindu pada rasa yang semu. Terkadang iri dengan rindu yang terselip bisu. Namun, sebelum rindu itu tumbuh, segenap rasaku mendorongku memikirkan siapa sebenarnya pelabuhan rindu?

Kamu? tanyaku.

Haruskah aku selalu bertanya seperti ini. Jelas masih saja pertanyaan itu ada dalam benakku. Bertanya apakah engkau yang menjadi pelabuhan rindu, apakah kamu tempat rinduku bersarang? Ataukah hanya rasaku saja yang sangat berlebihan kepadamu. Menganggap dirimu sepenuhnya adalah pelabuhan rindu? Sungguh hal seperti ini yang membuatku ambigu. Sejak kapan aku rindu?

Bukankah rindu sebaiknya disampaikan, begitu kata seorang sahabatku. Tapi tidak! Aku tidak bisa, jawabku. Aku tidak bisa! Tersenyum padamu, aku pun ragu. Walaupun hati ini sangat ingin mengucapkannya. Aku hanya takut, imajinasi yang kubuat terpatahkan oleh realita yang menyakitkan. Bukankah imajinasi hanyalah fiksi semata. Hasil karangan dari pikiran yang diolah untuk membuat hati lebih senang.

Pada senja itu …

Ada rindu yang menyapa di tengah nestapa

Ada rindu yang bersenandung dengan lembayung, meskipun pahit

Ada kata yang merintih tuk diucap

Ada luka yang berusaha sembuh

Ada senyum yang berusaha terbingkai di bibir

Ada nama yang selalu tersebut dalam doa.



Sumber