JawaPos.com – Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly melakukan kunjungan kerja ke Serbia sejak Sabtu (4/7). Kunjungan kerja tersebut berkaitan dengan kerja sama bilateral terkait bidang hukum dan HAM.

“Dalam bidang politik dan ekonomi, dalam membuat perjanjian, secara khusus kami akan bekerjasama dalam bidang bantuan hukum timbal balik, mutual legal assistance, dalam bidang pidana dan perjanjian ekstradisi,” kata Yasonna dalam keterangannya, Senin (6/7).

Politikus PDI Perjuangan ini menyebut, kunjungan kerjanya ke Serbia sebagaimana dilakukannya di sejumlah negara, seperti Swiss, Rusia, Iran, serta beberapa negara lainnya. Selain kerja sama bidang hukum, juga mengeksplor hubungan-hubungan kerja sama lainnya, semisal bidang ekonomi dan infrastruktur.

“Nanti misalnya akan saya sampaikan dengan sahabat saya menteri lainnya di Indonesia. Misalnya di sini banyak gandum, apalagi di Indonesia menjadi kebutuhan besar. Kemudian kita punya komoditas lainnya. Kita punya komoditas lain seperti CPO dan banyak hal yang bisa bisa kita supply dari Indonesia, lain seperti furniture,” ujar Yasonna.

Yasonna menuturkan, Indonesia dengan Serbia memiliki hubungan historis yang sangat baik. Yasonna terlebih dahulu membahas beragam kerja sama Indonesia-Serbia dengan Duta Besar Republik Serbia untuk Indonesia H.E. Slobodan Marinkovic pada Senin, 29 Juni 2020.

“Beliau sangat menyambut baik dan menyatakan bahwa hubungan Indonesia dan Serbia untuk terus ditingkatkan dalam berbagai bidang. Dalam bidang budaya kah, kalau politik sudah cukup baik, barangkali kita mau tingkatkan dalam bidang ekonomi, hukum, maupun infrastruktur, dan lain-lain,” beber Yasonna.

Yasonna pun tak lupa menyapa 109 Diaspora Indonesia di wilayah Serbia, pada Minggu 5 Juli 2020 melalui teleconference. Yasonna menjelaskan soal repatriasi bagi WNI yang berada di Serbia. Namun, Yasonna mengaku untuk Serbia gejolaknya di tengah pandemi tidak terlalu besar.

“Tetapi ABK dari Jepang, Amerika, dari beberapa tempat memang ada gelombang yang harus kita terima. TKI kita dari Malaysia dan beberapa tempat waktu dari Wuhan kita kirim pesawat khusus untuk mereka dan menempatkan mereka di Natuna untuk proses pemantauan selama 14 hari,” ucap Yasonna.

Kendati demikian, Yasonna menegaskan Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan untuk melindungi WNI di luar negeri. Termasuk tugas Kementerian Luar Negeri memberikan perlindungan kepada warga negara.

“Oleh karenanya saya berada di sini, saya ingin juga mendengar dari saudara yang ada di Serbia tentang kehidupan di sini, juga tentang kerinduan Indonesia,” tukas Yasonna.

Editor : Kuswandi

Reporter : Muhammad Ridwan



Sumber