JawaPos.com – Aksi-aksi membangun Sidoarjo sudah dia siapkan. Dalam segala bidang Dari hulu ke hilir. Semua berdasar perhitungan matang. Berbekal seabrek pengalaman dari dalam dan luar negeri.

Ingatan Mas Iin, sapaan Amir Aslichin, tentang masa muda masih sangat kuat. Membekas. Masih teringat. Betapa sering ikut perkemahan ke luar kota. Sangat aktif di Pramuka dari siaga sampai penggalang. Dia juga hobi olahraga dan juara bulu tangkis.

”Pernah juara III bulu tangkis tingkat kecamatan waktu kelas 5 SDN Pucanganom dulu,” cerita anggota Fraksi PKB DPRD Jatim itu.

Di sekolah, prestasi belajarnya selalu berada di ranking atas. Lulus pun nilai hasil ujian nasionalnya tiga besar. Saat duduk di SMPN 1 Sidoarjo pun, keaktifan Mas Iin mengikuti Pramuka tidak berkurang. Dia pernah menjadi peserta kontingen Sidoarjo pada Jambore Nasional 91 di Cibubur.

Saat belajar di SMAN 1 Sidoarjo hobinya agak nyeleneh. Suka nonton balapan liar di kawasan Perumahan Pondok Tjandra. Hobi itu membawa Mas Iin menjadi promotor tim road race. Motornya saat itu Suzuki Crystal Tune 1992.

Tidak itu saja. Selain yang bermesin, mantan anggota DPRD Sidoarjo dua periode itu juga demen sepedaan. Sering ikut funbike ke luar kota. Beberapa kali juga ikut rally wisata. ”Pernah ikut gerak jalan Sidoarjo-Surabaya yang diadakan KNPI. Ikut pe rorangan bersama 3 teman sekelas,” tutur Mas Iin disusul tawa. Sebagai anak muda, dia suka nge-band juga.

Bersama teman SMA dari beda kelas, tapi seangkatan. Setelah lulus SMA, Mas Iin ingin pengalaman baru. Dia melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik di Melbourne, Australia. Yakni, The University of Melbourne. Dia mengikuti jejak anak teman kerja bapaknya yang sudah kuliah di sana.

Pada tahun 2000, dia mengikuti praktik di Indonesia. Untuk mendapatkan pengalaman kerja agar bisa melanjutkan program studi. ”Saya magang di dua proyek pembangunan. Di gedung AAL Dikodikal Surabaya dan di rumah Prigen Pasuruan,” katanya.

Semangat belajar Mas Iin terus bergelora. Pada April tahun 2000, dirinya masuk Fakultas Hukum Unair program ekstention (non-reguler). ”Alhamdulillah diterima masuk dengan kategori kelompok terbaik sehingga biaya masuknya paling murah,” ujar bapak dua anak tersebut.

Awal 2001 dia balik ke Melbourne untuk melanjutkan studi. Pada Agustus 2001 dia wisuda untuk gelar pertamanya. Yakni, bachelor of planning and design. Belum puas rasanya dengan satu gelar.

Setelah tuntas course pertamanya itu, Mas Iin langsung melanjutkan studi lagi. Dia mengambil course bachelor of property and construction. Tuntas dalam setahun sehingga bisa wisuda Agustus 2002. Selama merantau di negeri orang, dia sendirian.

Pengalaman di Melbourne membuatnya semakin matang. Banyak teman dari negara lain yang berbeda-beda. Baik pola pikir, budaya, hingga kebiasaan. Mulai anak pejabat, anak pengusaha, hingga para dosen yang juga studi di sana.

Pengalaman seabrek Mas Iin semasa muda itu bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lain. Dia berharap anak-anak muda Kota Delta bisa berkiprah lebih besar. Lebih hebat. ”Saya siap mencukupi kebutuhan mereka dengan berbagai program. Yang terbaik,” ungkap pria kelahiran 5 Juni 1977 itu.

Salah satunya, lanjut pengusaha muda yang sukses itu, dia ingin ada pemantapan infrastruktur perkotaan di Sidoarjo. Standarnya sudah harus internasional. Referensinya kota-kota lain yang dikunjunginya saat ke di luar negeri. Semua bisa jadi inspirasi.

Mas Iin sudah merancang taman kota merata di seluruh wilayah. Sebagai ruang sosial, ruang olahraga, hingga ruang ekonomi. Ada display UMKM dan outlet produk lokal.

Jalur pedestrian juga dikembangkan. Jogging dan cycling track maupun sarana olahraga lain akan dibangun untuk memperkuat Sidoarjo sebagai sport city. Untuk sarana transporasi, Mas Iin berencana mengembangkan koridor baru bus rapid transit (BRT). Penghubung wilayah timur sampai Barat. Sarana transportasi khusus pelajar (bus pelajar) juga disiapkan.

Bagaimana konsep peningkatan kualitas SDM di Kota Delta? Mas Iin menyebutkan, ada program 10 ribu beasiswa SMA/SMK hingga perguruan tinggi. Itu untuk hafidz dan hafidzah, guru berprestasi, guru diniyah, dan lainnya.

Dia juga berencana membuat klinik wirausaha. Ada program medical home service. Ada program pesantrenprenuership. Ada program Sidoarjo smart card atau kartu cerdas Sidoarjo. Yakni, program sinergi dengan program penanggulangan kemiskinan dari pemerintah pusat.

Ada pula program social care center. ”Juga pengembangan koperasi berbasis segmen. Seperti koperasi wanita, nelayan, UMKM, PKL dan lainnya,” ujar Mas Iin. Dan, yang pasti, ada optimalisasi badan usaha milik desa/kelurahan.

Untuk para pencari kerja, sudah disiapkan program-program pemberdayaan. Anak muda butuh banyak terobosan cerdas. Mas Iin sudah siap dengan konsep yang aplikatif. ”Ribuan wirausaha baru akan lahir,” katanya.

Ada smart job market. Ada program layanan pekerjaan untuk keluarga tidak mampu. ”Lewat optimalisasi ekonomi kreatif, start up, dan bisnis online juga,” kata pria kelahiran Sidoarjo.

Menurut Mas Iin, menangkap peluang dan melakukan lompatan pembangunan tidaklah mudah. Namun, Sidoarjo harus berubah dan berani berbeda. Menjadi jauh lebih baik dengan menjadikan masa lalu sebagai pengalaman berharga untuk menata langkah ke masa depan. Berani berbeda dengan inovasi dan terobosan kebijakan. ”Mari menuntaskan permasalahan sekaligus menjawab tantangan masa yang akan datang,” tegasnya.



Sumber