Little Bit of Muffin Bersamamu Merajut Lupa Menyembuhkan Luka - Part 1: Satu
figure_image
{"alt":"Satu","caption":"","hash":"0hvNqyqfseKWFMAAHfX9ZWNnZWKg5_bDpiKDZ4fxxud1U1ZWY3JG9mD28AcVMyMm4_IjZiAWEDMlAzMGoydGBm","quality":0,"style":0}

Suara berisik ponsel menyentak Kesha dari alam mimpinya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, perempuan itu menggapai ponsel yang tergeletak agak jauh di sebelah kanan tempat tidur.

Sebelas missed call dan lima SMS dari orang yang sama. Dari ibunya. Tentu bukan tanpa alasan ibunya seheboh itu menelepon dan mengiriminya pesan. Semenjak dua bulan lalu, cara hidup Kesha memang mulai berubah. Ia tak pernah bangun pagi. Tak lagi beraktivitas sebagaimana biasanya. Bangun tidur, mandi, kemudian bergegas menuju toko kue milik keluarganya yang dalam lima tahun ini ia tangani bersama ibunya.

Semua sudah berubah.

Mengingat hal yang membuat dirinya berubah, mau tak mau membuat pikiran Kesha melayang jauh ke masa lalu. Memikirkan nama orang itu saja membuat kepalanya hendak pecah. Luka yang membekas di dadanya seakan-akan berdenyut. Menuntut diobati.

Kesha membuka salah satu pesan yang tertera di kotak pesan ponselnya.

Kei, tolong antarkan data keuangan Sugar Bakery yang ketinggalan di kamar Mama. ASAP ya sayang.

Sender: Mama

Embusan napas kesal keluar dari mulut Kesha. Ia menggaruk gusar rambutnya yang nyaris menyentuh bahu. Kesha enggan beranjak. Ia berdiam di atas tempat tidur. Memandang sekeliling kamarnya yang lebih pantas disebut kapal pecah ketimbang kamar tidur perempuan. Lemari di sudut kamar tampak tak rapi dengan sebelah pintunya yang terbuka. Beberapa pakaian terburai keluar dari susunannya.

Belum lagi meja kerja di samping tempat tidur yang berantakan luar biasa. Buku-buku tak tersusun lagi. Gelas bekas menyeduh kopi berada di antaranya. Dikerubungi koloni semut yang menyesap sisa gulanya.

Kesha sudah tak peduli lagi. Bicara tentang peduli, seseorang yang dipikirkannya bahkan tak peduli kepadanya. Ia terluka dan menjelma jadi orang tak waras seperti ini, tapi orang itu pun sama sekali tak mencemaskannya.

Kesha mengacak gusar rambutnya yang kian berantakan dan mengembang tak wajar. Sebanyak apa pun umpatan yang ia keluarkan, tak akan membuat perasaannya membaik. Emosinya sudah berada di tingkatan tertinggi. Ia tak bisa lagi mengendalikan diri dari kemarahan yang kapan pun bisa meledak.

Ponsel berdering lagi. Kesha tertegun lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.

“Mama butuh data itu sekarang, Kei! Jangan bilang kamu belum berangkat!� Suara cerewet ibunya langsung terdengar bagai ledakan yang memekakkan telinga. Kesha tak berusaha membela diri. Ia biarkan ibunya memarahinya, seperti yang belakangan ini sering terjadi.

“Mama sengaja ninggalin data itu supaya aku ke Sugar Bakery, kan? Ide bagus, Ma,� Kesha menyahut dengan suara datar dan iringan tawa hambar.

“Mama nggak mau tahu. Pokoknya Mama tunggu sekarang juga!� Telepon langsung terputus. Kesha mendengus pelan. Meski malas, ia memutuskan akan pergi ke Sugar Bakery. Baginya, suatu kesalahan jika membiarkan seseorang menunggu dan berharap ia datang. Sebab, Kesha tahu rasanya menunggu dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti.

Jam di meja nakas menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Kesha sungguh bangun kesiangan hari ini. Ia tertawa hambar. Menertawakan dirinya yang jadi berantakan. Bahkan, jam tidur dan bangunnya pun berantakan.

Pandangan Kesha terbentur pada pigura foto yang tertelungkup di samping jam meja. Hatinya merasakan gemuruh itu lagi. Bahkan, tanpa melihat seseorang di balik pigura itu, hatinya sudah sakit bukan main.

Kesha lantas beranjak. Tak ada lagi waktu untuk mengingat-ingat orang itu saat ini!


Dinding bagian luar Sugar Bakery yang berwarna cokelat tua membekukan langkah Kesha. Ia baru saja turun dari motor matic-nya dan ragu untuk melangkah masuk. Matanya justru lama memperhatikan toko kue milik keluarganya itu.

Toko mereka didominasi warna cokelat pada bagian luar, dengan kaca jendela panjang yang membuat orang bisa melihat isi toko. Pada jendela kaca itu tertempel stiker putih transparan bertuliskan “Taste the sweetness� sebagai slogan Sugar Bakery. Beberapa stiker berbentuk roti dan cupcake mengelilingi tulisan tersebut.

Display terlihat dari balik jendela panjang, memamerkan aneka cupcake, tar, dan macaroon yang didekorasi dengan manis. Pintu masuk berada di sisi kanan, dengan label “Open� pada bagian luarnya. Kesha ingat, dulu ia yang sering membalik label itu ketika toko akan buka dan tutup.

Dari jaraknya yang kurang lebih lima meter dari toko, ia sudah bisa merasakan aroma khas toko kuenya. Harum yang menyentak. Mengingatkannya pada momen manis yang pernah ia lalui di tempat ini, bersama seseorang yang tak ingin ia sebut lagi namanya. Kesha terlalu sakit dengan perpisahan mereka selama dua bulan ini.

Mata Kesha memperhatikan aktivitas di dalam ruang display, masih dari tempatnya mematung. Semua pelanggan tampak senang melihat jenis-jenis kue yang menggoda. Kesha masih bergeming. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat semua itu.

Pandangannya kemudian beralih ke bagian atas bangunan toko yang dihiasi plang nama: Sugar Bakery. Tertulis timbul dengan warna putih. Sederhana tanpa ornamen apa pun. Sesederhana warna gula yang putih, tetapi menyimpan rasa yang manis.

Ayah Kesha-lah yang mendirikan toko kue ini ketika masih muda. Semasa hidupnya, ia mengelola toko ini bersama ibu Kesha. Setelah meninggal, ia dan ibunya-lah yang menangani toko ini. Namun, karena suatu masalah yang bersifat pribadi, Kesha enggan lagi terjun di Sugar Bakery. Ia memutuskan untuk tak lagi menyentuh hal-hal berbau kue meski sekadar tepung biasa. Jika melihatnya, Kesha akan langsung menyingkirkan jauh-jauh.

Terdengar berlebihan. Namun, Kesha rasa cara itulah yang efektif untuk mengubur nama orang itu jauh di dalam kenangan. Ia tak ingin harum kue mengingatkannya pada momen-momen itu.

“Mbak Kesha? Kok, nggak masuk?� Seorang pelayan ruang display yang kebetulan baru membantu pelanggan membawa kue, menegur Kesha.

Kesha tersentak dan sontak memasang senyum seadanya. Entah bagaimana aura wajahnya terlihat, ia tak peduli. Ia mau tak mau melangkah masuk ke toko. Saat pintu terbuka, saat itulah aroma campuran tepung, telur, gula, vanilla essence, ragi, dan baking soda merasuk cepat ke dalam rongga hidungnya. Membuat ia sejenak terbuai. Mana bisa ia memungkiri bahwa ia tak mampu menolak aroma yang dulu begitu disukainya.

Lalu, tanpa bisa dihindari, Kesha memandangi ruang display di sekelilingnya yang berkonsep warm minimalist. Dinding berwana krem yang hangat. Lantai ubin abu-abu. Serta pencahayaan yang tidak begitu terang. Display kaca yang menunjukkan semua jenis kue yang ada tanpa ragu. Ada tiga buah display berukuran sedang. Satu di bagian depan, menghadap ke luar sebagai tempat kue-kue andalan dan terbaru dipajang. Lalu, display di sisi kiri, di sana jendela kaca juga seolah mengekspos isi dari toko. Di sebelahnya terdapat meja cokelat tua berisi roti-roti seperti baguette, bagel, ciabatta, dan challah. Display terakhir bersisian dengan meja kasir. Di sana lebih dominan cake seperti rainbow cake, red velvet cake, dan jenis cake yang lain. Juga sebuah rak yang memajang aneka cookies.

“Ibu Nida ada di ruangannya, Mbak.� Pelayan tadi memberi tahu. Kesha mengangguk-angguk sekaligus menyadarkan dirinya yang terbuai dalam aroma harum kue-kue di ruang display. Nyatanya, menjauhkan diri dari segala hal berbau kue tak bisa membuat ia membenci kue-kue itu sepenuhnya.

Kesha lekas melangkahkan kaki. Melewati pintu yang membawanya ke lorong menuju ruang kerja ibunya. Di sanalah biasanya Kesha dan ibunya mendiskusikan masalah kue dan jalannya Sugar Bakery. Kesha memutar kenop pintu. Begitu ia mendorong pintu ke dalam, ia melihat ibunya tak sendirian di dalam. Ada seorang laki-laki yang duduk membelakangi pintu.

“Kei, kamu udah datang.� Nida, ibu Kesha memperlihatkan senyum yang tak biasa. Dalam hati, Kesha sudah mulai menduga hal apa yang kemungkinan terjadi. Kesha menahan tubuhnya di mulut pintu. Menunggu aba-aba ibunya.

“Ayo masuk. Kok, malu-malu.�

Siapa yang malu-malu? omel Kesha dalam hati. Kesha semakin curiga saja dengan sosok laki-laki yang bahkan tak menggerakkan tubuhnya sedikit pun ketika tahu ia datang. Sebentar ia memperhatikan bentuk tubuh laki-laki itu. Tubuhnya tampak tinggi dan ramping. Kemeja biru tua dengan lengan yang digulung hingga siku terlihat serasi di kulit sawo matangnya. Sementara itu, kedua kakinya yang panjang ditutupi jins hitam. Ia tampak rapi sekalipun penampilannya terbilang santai.

“Oh ya, kenalkan ini orang yang saya ceritakan tadi.� Nida bicara dengan laki-laki itu. Barulah laki-laki itu berbalik. Menoleh ke arah Kesha yang jaraknya masih belum jauh dari pintu.

Begitu pandangan mereka bertemu, Kesha membeku sejenak. Ia tak mengenal laki-laki ini. Ia tahu itu. Wajah ini terbilang sangat asing baginya. Kesha mengalihkan pandang kepada ibunya, meminta penjelasan.

Nida beranjak dari duduknya. Matanya melihat ke arah Kesha dengan senyuman yang mencurigakan, bagi Kesha. Dugaan-dugaan Kesha semakin terasa nyata.

“Kei, Mama pikir Sugar Bakery butuh chef baru. Jadi, kenalkan ini Gathan, chef yang akan bantu kamu di sini.�

Kesha sontak terkejut.

Laki-laki itu mengulurkan tangan sambil tersenyum tipis. Kesha bergeming. Lagi-lagi matanya mengamati. Wajah laki-laki di depannya ini terlihat ramah sekaligus beraura sombong. Mungkin bibirnya yang agak tipis itu tersenyum, tetapi matanya bersorot tajam.

Kesha menyambut uluran tangannya. Telapak tangan laki-laki bernama Gathan itu terasa kuat di tangan kecilnya.

“Gathan Alfariel.� Nada suaranya terdengar tegas. Setegas garis wajahnya. Kesha tersenyum aneh, sambil melirik ibunya yang memandang penuh arti di balik mejanya.

“Kesha Arella.� Buru-buru Kesha menarik tangannya. Pandangannya beralih kepada Nida sepenuhnya. Lewat matanya ia menunjukkan ketidaksukaan atas keputusan sang ibu.

Bukan ini yang Kesha inginkan. Mengapa ibunya mengambil keputusan sepihak untuk merekrut chef baru? Bukankah Sugar Bakery milik mereka berdua?

“Jadi, mulai besok, Gathan yang akan gantikan posisi Chef Evan di sini.� Ucapan Nida bukannya semakin membuat Kesha membaik, malah emosinya semakin tinggi. Namun, mengingat di sini ada orang lain, sulit bagi Kesha untuk meluapkan kemarahannya. Ia akan menahan diri. Sekuat mungkin.

“Saya berharap Chef Gathan bisa bekerja sama dengan baik dengan semua staf di Sugar Bakery, termasuk dengan putri saya, Kesha.�

Nyaris Kesha mendengus mendengar kalimat itu. Ia melirik ke arah Gathan yang tersenyum seadanya menanggapi ucapan bosnya. Gathan menoleh ke arah Kesha. Dalam sorot mata yang tajam, bibirnya masih membentuk senyuman kecil. Kesha melenguh dalam hati. Ia tak yakin Gathan mewakili seperempat dari diri Evan yang dikenalinya. Kesha sadar akhirnya nama orang itu terucap juga. Evan.




Sumber