MANADOPOST.ID— Dibukanya pasar internasional, membuat realisasi ekspor Sulawesi Utara (Sulut) mengalami peningkatan. Tercatat pada Mei 2020, nilai ekspor mencapai 57,98 juta USD atau setara dengan Rp883.074.034.000 (kurs Minggu 12/7).

Sementara nilai impor mencapai 13,66 juta USD atau setara dengan Rp196.270.978.000, kurs yang sama. Artinya neraca perdagangan Sulut mengalami surplus sebesar Rp636.803.056.000 atau 13,66 juta USD.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono meskipun surplus, namun dibandingkan bulan lalu, mengalami penurunan dibandingkan April lalu. Yang kokoh di angka 63,76 juta USD. “Untuk kontribusi ekspor terbesar masih disumbangkan oleh lemak, minyak hewani dan nabati (HS15). Ada juga hasil dari pertanian perikanan dan kelautan,” sebutnya.

Dia menyebutkan, nilai ekspor nonmigas lemak dan minyak nabati mencapai 23,53 juta USD dengan persentase 40,57 persen dari total ekspor. Sementara untuk impor adalah bahan bakar mineral, senilai 5,05 juta USD atau setara dengan 36,98 persen dari total impor.

“Meskipun turun namun capaian ini tetap positif. Mengingat semua negara dihadapkan dengan situasi Covid-19,” katanya, sembari meyakini kedepannya nilai ekspor Sulut akan terus mengalami peningkatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Edwin Kindangen memastikan jika nilai ekspor Sulut terus mengalami peningkatan. “ Ekspor Sulut terus mengalami peningkatan. Hanya saja selama ini pemuatannya tidak hanya lewat pelabuhan Bitung namun juga melalui pelabuhan lain,” tekannya.

Dia pun menegaskan jika tahun ini pihaknya terus menggenjot semua potensi komuditas Sulut yang disukai pasar dunia.

“Ekspor akan terus dikembangkan. Mungkin kedepannya akan banyak produk turunan lain yang banyak diminati dunia. Seperti tepung kelapa, ikan beku, santan beku dan produk unggulan lainnya,” tutupnya. (ayu)





Sumber