MATARAM–Penjualan hewan kurban pada Idul Adha tahun ini diprediksi menurun. Kondisi ekonomi masyarakat yang melemah karena terdampak pandemi menjadi penyebabnya. ”Pandemi ini sangat mempengaruhi. Sehingga daya beli masyarakat akan hewan kurban jelang lebaran juga berkurang,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli Yahya, kepada Lombok Post, Senin (13/7/2020).

Penurunan tersebut juga terindikasi oleh dua faktor. Pertama, terlihat dari jumlah penjual hewan kurban di kawasan sekitar Kota Mataram yang masih jarang.

”Tahun sebelumnya terdapat lebih dari 60 titik lokasi penjualan hewan kurban. Kini tersisa 2 minggu lebaran saja masih jarang ditemukan penjual,” katanya.

Faktor yang lain, minimnya jumlah pembeli di pasar hewan. Sehingga pedagang berlomba-lomba menurunkan harga jual.

Untuk sapi, harga yang diturunkan bisa mencapai satu jutaan dari harga normal Rp 13.000.000 – Rp 15.000.000. Sedangkan kambing bisa turun harga hingga lebih dari Rp 500 ribu dari harga normalnya Rp 2 juta-2,5 juta. ”Nanti coba kita cek seminggu jelang lebaran. Bisa jadi harganya akan kembali normal,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diterima, jumlah kebutuhan hewan kurban di Kota Mataram pada 2019 mencapai 3.206 ekor. Rinciannya, sapi 905 ekor dan kambing 2.301 ekor. Dengan lokasi penyembelihan tersebar di 205 titik. Sedangkan tahun ini, jumlah hewan kurban yang disiapkan berkurang 5-10 persen. Lokasi penyembelihan pun diimbau hanya di rumah potong hewan (RPH). ”Biasanya dilakukan di masjid, kantor, atau sekolah. Tahun ini sebaiknya hanya di RPH saja untuk menghindari kerumunan,” katanya.

Dijelaskan, saat ini pihaknya bersama pihak terkait, sedang menyusun tata laksana penyembelihan. Termasuk tata cara penjualan hewan kurban dalam masa pandemi. Salah satu pembahasannya adalah tentang teknis pendistribusian daging kurban yang akan diubah dengan cara berkeliling oleh petugas. ”Akan diresmikan dalam 2-3 hari kedepan. Nantinya kami akan memberi pembekalan untuk memastikan petugas dan penerima aman dari Covid-19. Karena mereka harus mengunjungi daerah yang masih berstatus zona merah,” jelasnya.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB juga akan mengakomodir 15.500 ekor sapi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Sapi-sapi tersebut dikirim menggunakan kapal tol laut, Cemara Nusantara. Namun, hingga kini sapi yang sudah terkirim baru mencapai 8.000 ekor. Kapasitas kapal yang terabatas menjadi kendalanya. ”Selain itu kita juga harus rebutan dengan sapi ternak asal NTT dan Gorontalo. Tapi kami optimis target jumlah tersebut bisa tercapai hingga akhir tahun nanti,” kata Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Disnakeswan NTB Ratna Mustikawati. (eka/r9)

 



Sumber