Jakarta – Berdasarkan data kasus HIV/AIDS dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 29 Mei 2020, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Papua dari tahun 1987 sd. Maret 2020 sebanyak 60.606 yang terdiri atas 36.997 HIV dan 23.609 AIDS.

Penyebaran HIV/AIDS di Papua antara lain didorong oleh penyangkalan dan penggiringan opini terkait dengan penularan HIV/AIDS.

Tidak hanya di Papua dan Indonesia, tapi di banyak negara juga terjadi penyangkalan yaitu menampik perilaku seksual penduduk, terutama laki-laki dewasa yang berisiko tertular HIV/AIDS. Ketik kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi yang dicari adalah ‘kambing hitam’ untuk menutupi perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS.

3-peringkat aids papua10 provinsi dengan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS terbanyak. (Tagar/Syaiful W Harahap)Tahun 1997 pada Kongres AIDS Internasional Asia Pasifik (ICAAP), pembicara dari Indonesia, waktu itu dari Depkes, sekarang Kemenkes, memparkan makalah bahwa yang membawa HIV/AIDS ke Papua adalah nelayan Thailand yang mampir di Merauke (1992).

Paparan Depkes itu pun langsung ditolak oleh seorang peserta dari Thailand yang mengatakan bahwa orang Papua, dalam hal ini warga Merauke, juga pergi ke daerah lain di luar Papua. Bisa saja mereka tertular di luar Papua. Lagi pula tahun 1995 Depkes melaporkan ada 88 kasus HIV, 8 AIDS dan 5 kematian terkait HIV/AIDS di Papua.

Itu artinya jauh sebelum nelayan Thailand mampir di Merauke (1992) sudah terjadi penularan HIV/AIDS pada orang Papua karena masa AIDS secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular. Maka, 8 warga pengidap HIV/AIDS dan 5 yang meninggal terkait HIV/AIDS tertular HIV/AIDS antara tahun 1980 sampai 1995. Sedangkan nelayan Thailand mampir di Merauke tahun 1992. Selain itu kasus HIV dan AIDS serta kematian tidak semua terjadi di Merauke.

Di beberapa kota dan kabupaten ada tempat pelacuran dengan pekerja seks komersial (PSK) yang datang dari luar pulau, seperti dari Pulau Jawa dan ujung utara Sulawesi. Warga Papua menyebut PSK sebagai “Mama Ade” atau “Paha Putih”.

Lalu, ada penggiringan opini yang menyebut PSK dari luar pulau itu sengaja didatangkan untuk menyebarkan HIV/AIDS sebagai bagian dari genosida (pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras).

Pertama, kalau PSK dari luar pulau itu disebut mengidap HIV/AIDS kenapa warga mau melakukan hubungan seksual dengan mereka tanpa memakai kondom.

Kedua, genosida dilakukan dengan penyakit mematikan yang mudah menular melalui udara dan air, seperti kolera. HIV/AIDS tidak menular melalui udara dan air.

Celakanya, banyak warga termakan informasi yang menyesatkan itu sehingga jadi penyangkalan dengan mengabaikan perilaku seksual yang berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Di lokalisasi pelacuran Tanjung Elmo, dikenal sebagai ‘turki’ (turunan kiri), di Kabupaten Jayapura, dulu ada ATM Kondom sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan perlindungan bagi laki-laki agar terhindar dari HIV/AIDS. Belakangan lokalisasi ini ditutup sehingga transaksi seks terjadi di banyak tempat yang justru tidak bisa dijangkau oleh aktivis LSM untuk advokasi ke PSK dan laki-laki pelanggan agar menerapkan seks aman.

Dalam kondisi transaksi seks yang tidak dilokalisir risiko penularan HIV/AIDS akan meningkat karena tidak ada penjangkauan untuk sosialisasi kondom. Ini sama saja dengan pembiaran yang mendorong penyebaran HIV/AIDS yang kelak bermuara sebagai ‘ledakan AIDS’. []





Sumber