Libya tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Seorang pejabat Libya yang dekat dengan jenderal pemberontak Khalifa Haftar meminta dukungan dari Israel. Demikian dilansir Anadolu dari sebuah harian Israel, Rabu.

“Kami tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi musuh dengan Tel Aviv, dan kami harap Anda akan mendukung kami,” kata Abdul Salam al-Badri, wakil perdana menteri pemerintah Libya timur yang bersekutu dengan Haftar.

Pernyataan itu dia sampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui harian Makor Rishon.

Al-Badri, yang bermarkas di kubu Haftar, Benghazi, meminta Israel untuk bergabung dengan inisiatif politik baru bersama Yunani, Siprus, Mesir dan Libanon untuk mencapai kesepakatan maritim bersama.

Dia mengatakan inisiatif itu bertujuan untuk menghadapi perjanjian perbatasan laut yang ditandatangani oleh Turki dan pemerintah sah Libya yang diakui secara internasional baru-baru ini.

Sembari menyatakan dukungannya untuk solusi dua negara antara Palestina dan Israel, al-Badri menambahkan bahwa pemerintahannya mencari peta baru yang mempertimbangkan kepentingan negaranya bersama dengan negara-negara lain di kawasan.

Libya tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel dan ada keengganan resmi untuk normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.

Pasukan Haftar telah melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota dan baru-baru ini berhasil merebut kembali lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan Tarhuna, yang dipandang sebagai pukulan signifikan bagi pasukan Haftar.

*Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara

https://www.aa.com.tr/id/dunia/pejabat-pro-haftar-di-libya-timur-minta-dukungan-israel/1873079



Sumber