Jakarta: Riset dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang pengembangan inovasi teknologi penangkapan benih dan calon induk sidat masuk prioritas riset nasional. Riset ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas, serta alat tangkap ramah lingkungan.
 
“Pengembangan inovasi teknologi dari kegiatan penangkapan ikan sidat dilakukan dengan mengidentifikasi keragaman jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan dalam menangkap benih sidat atau glass eel dan induk sidat,” kata peneliti dan dosen IPB dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Ronny Irawan Wahju, dalam keterangan tertulis, Selasa, 14 Juli 2020.
 
Ia mengatakan efisiensi dan efektivitas alat tangkap benih sidat dan induk dilakukan melalui kajian hasil tangkapan yang dikategorikan ke dalam target dan sampingan. Informasi yang didapat dari hasil kegiatan penangkapan benih atau induk sidat secara umum menjadi parameter dalam mengestimasi efisiensi alat penangkapan.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Selanjutnya, kata dia, dilakukan perbaikan dalam teknologi penangkapan ikan yang dapat meningkatkan kualitas benih dan induk sidat, serta dapat menciptakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
 
Ronny menjelaskan, selain teknik penangkapan, sistem holding mempunyai peranan penting ketika benih atau induk sidat ditangkap sampai ke pengumpul dan terakhir ke tempat pembesaran sidat. Menurutnya, penerapan sistem holding yang sesuai untuk benih diperlukan terutama bagi kelangsungan hidup fase glass eel sampai elver.Fase tersebut tingkat mortalitasnya masih tinggi yakni lebih dari 80 persen.
 
Dengan memiliki teknologi sistem holding yang sesuai, kata dia, maka akan meningkatkan ‘survival rate‘ atau tingkat bertahan dari benih dan induk sidat, baik itu sejak ditangkap hingga ke pembesaran.
 
Baca: UMM Kembangkan Riset Bidang Pangan
 
Pengembangan inovasi teknologi dilakukan melalui perbaikan alat penangkapan benih atau induk sidat serta sistem holding sehingga dapat meningkatkan kualitas benih dan induk sekaligus menunjang industri pembesaran dan pengolahan sidat.
 
“Nelayan penangkap benih sidat perlu melakukan pengendalian dan pengaturan jumlah tangkapan glass eel, misalnya melalui pengaturan waktu dan lokasi penangkapan,” ujar dia.
 
Hal tersebut dilakukan agar cukup tersedia benih sidat yang lolos dari upaya penangkapan yang kelak akan menjadi induk dan menghasilkan benih kembali.
 
Selain itu, terdapat pula pengaturan tentang jumlah minimal yang ditangkap, pelarangan penangkapan induk sidat dewasa, serta melindungi habitat calon induk dan menentukan prioritas kawasan konservasi bagi larva maupun calon induk sidat di perairan estuaria dan sungai sehingga ketersediaan larva dan calon induk bisa terjaga.
 
Untuk meningkatkan benih dan calon induk sidat dalam penjualan, ia menilai perlu peningkatan benih dimana jumlahnya cukup, ukurannya siap tebar di wadah budidaya serta tersedia sepanjang tahun dengan kualitas yang baik.
 
Pemeliharaan ikan sidat memerlukan waktu relatif lama sehingga pembudidaya dapat membuat segmentasi usaha mulai dari pemeliharaan, pendederan benih sidat dengan beberapa kelompok ukuran elver siap tebar yakni 20-50 gram sampai pembesaran untuk menghasilkan ikan konsumsi yakni 150-300 gram. Secara umum, pengembangan calon induk adalah upaya untuk pengembangan pembenihan sidat karena benih tersebut masih diperoleh dari tangkapan alam yang jumlahnya terus menurun.
 

(AGA)



Sumber