PGN Bangun 3 Pusat Sumber Gas hingga Salurkan Gas ke Rumah Tangga Pakai Iso Tank
“`figure_image
{“alt”:””,”caption”:”com-Perusahaan Gas Negara Foto: dok. PGN”,”hash”:”0hKI37qQf8FGYOTj0CMnFrMTcYFwk9IgdlanhFeF4gSlJ0f1EyMi9SCC0aTlEmLlM4YHpSBioLSwQhKVc5NiE”,”quality”:0,”style”:0}


PT PGN Tbk (Persero) bakal melakukan beberapa inovasi ke depan untuk meningkatkan bisnis sekaligus pelayanan gas bumi ke masyarakat. Pertama, perusahaan bakal membangun tiga hub atau pusat sumber gas di Indonesia. Ketiga hub itu akan dibangun di Aceh, Lampung, dan Ambon. Hub di Aceh dibangun karena ada sumber gas besar yakni di Arun. Gas-gas di sana akan disalurkan ke daerah sekitar, mulai dari Aceh, Sumatera, juga ke negara tetangga seperti Bangladesh dan Myanmar. Hub kedua di Lampung, karena PGN memiliki Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau tempat penyimpanan gas alam untuk strategi penuhi pasokan gas di atas laut. "Lalu (gasnya bisa disalurkan) ke Kalimantan Timur dengan kapal kecil, Bali, Jawa, dan nusa tenggara. Konsepnya tengah kami matangkan," Direktur Utama PGN Suko Hartono dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (6/7). Hub ketiga di Ambon, yang merupakan sumber penyaluran gas di wilayah timur Indonesia. Di sini, salah satu sumber gas terbesar berasal dari LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua, yang dijalankan perusahaan migas asal Inggris, British Petroleum. Inovasi lainnya adalah menyalurkan gas rumah tangga tidak lagi dengan pipa gas. Gas akan didistribusikan melalui iso tank yang akan dibangun di suatu perumahan atau pemukiman warga dengan menggunakan fiber optik. Tapi, fasilitas iso tank ini akan dibangun di perumahan kelas menengah atas sebab infrastrukturnya mahal meski harga gas yang dijual ke rumah tangga murah. Menurut dia, iso tank ini sudah diuji coba di beberapa kota percontohan seperti Batam. Jadi uji coba pipa transmisinya ada sistem kontrolnya. "Kira-kira kalau saya gunakan tangki setara BBM, satu rumah tangga 30 meter kubik atau 2 tabung LPG. Jadi kalau saya punya pelanggan 1.000 itu setara tangki BBM 30 ribu liter sebulan. Minimal 1.000 bisa dijalankan sehingga nanti akan tumbuh," kata dia. Inovasi penyaluran gas bumi ke rumah tangga ini juga untuk mendukung program 4 juta sambungan rumah tangga pada 2024. Suko mengatakan, saat ini baru 537.938 sambungan jargas rumah tangga. Pada 2021 rencananya ada 734 ribu SR yang didanai PGN dan APBN Rp 8,1 triliun. ```figure_image {"alt":"","caption":"com-Perusahaan Gas Negara Foto: dok. PGN","hash":"0hSLOvRqYqDGNyDyUHTjVzNEhZDwxBYx9gFjldfSJhUlcIPkk3Tm4WDVFaU1AIPks9HDtDBFELF1INPRwxR20W","quality":0,"style":0}

Lalu pada 2022 mulai dengan skema kerja sama pembiayaan swasta untuk membangun 840 ribu SR dengan modal Rp 9,2 triliun. Pada 2023 bakal bangun 800 ribu SR dengan modal Rp 8,8 triliun dan pada 2024 bangun 800 ribu SR dengan modal Rp 8,8 triliun juga.

"Manfaatnya sampai 2024 nanti penurunan impor bisa USD 17,2 juta, hemat belanja masyarakat dari selisih antara beli LPG dan jargas USD 0,3 triliun per tahun, dan hemat subsidi USD 3,3 triliun per tahun," ujar Suko.

Inovasi lainnya adalah PGN bakal masuk ke bisnis industri petrokimia, dengan mengintegrasikan pipa gas perusahaan karena DMO dan metanol bisa diproduksi dari gas bumi.

Suko mengatakan, bisnis ini tidak akan menjadi usaha utama perusahaan. Porsinya hanya 5-15 persen, bekerja sama dengan subholding kilang Pertamina.

Portofolio ini diharapkan bisa menambah pendapatan perusahaan agar bisa menekan biaya operasi PGN yang selama ini cukup mahal dalam membangun infrastruktur pipa gas. Saat ini studi tengah dilakukan.

"Harus kami akui 5 tahun, 10 tahun, biaya operasi terlalu membengkak, tidak ada pilihan kami harus lakukan efisiensi dengan cara integrasi sistem pipeline hulu di hilir integrasi pipa PGN, pipa Pertagas, sehingga dengan ini khususnya di Jawa Barat bisa membantu meneruskan biaya operasi karena kami dapatkan manfaat harga tertimbang di biaya pengangkutan," ujarnya.



Sumber