Wilayah hilir di Indramayu diminta mendapat prioritas pembagian air.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Keluhan petani soal ancaman kekeringan pada areal pertanian, langsung ditindaklanjuti oleh Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat. Dia meminta agar wilayah hilir mendapat prioritas dalam pembagian air karena kondisinya saat ini tengah kesulitan air.

Hal itu disampaikan Taufik saat memantau langsung kondisi pertanian dan pembagian air irigasi yang melintas di beberapa kecamatan di Kabupaten Indramayu, Sabtu (4/7). Bersama dengan Forkopimda, dia meninjau langsung wilayah Kecamatan Kandanghaur, Bongas, Gabuswetan, Losarang, Terisi, dan Cikedung.

Lokasi yang dikunjungi Taufik itu di antaranya pintu air saluran sekunder plasa, yang terletak di perbatasan Gabuswetan dan Terisi. Dia melihat saluran irigasi itu dalam keadaan kering. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi para petani yang ada di Kecamatan Terisi, Gabuswetan, Losarang, dan Kandanghaur.

Selanjutnya, Taufik dan rombongan juga meninjau Saluran Induk (SI) Cipelang di Kecamatan Terisi, yang airnya bersumber dari Bendung Rentang di Kabupaten Majalengka. Lokasi itu merupakan pintu irigasi pembagi yang cukup penting karena menjadi penentu untuk wilayah yang teraliri SI Cipelang.

Setelah melakukan pemantauan itu, Taufik menyatakan, wilayah hilir dari sistem irigasi, seperti Kecamatan Kandanghaur, Losarang, dan Gabuwetan, harus mendapatkan perhatian serius dan prioritas dalam pembagian air. Pasalnya, wilayah-wilayah tersebut mengalami kesulitan air.

Sedangkan wilayah yang ada di depan saluran Cipelang, atau wilayah hulu, pasokan airnya dalam keadaan cukup. Air yang tersedia dinilai cukup aman untuk memenuhi kebutuhan air hingga beberapa hari kedepan.

‘’Saya tegaskan, pertanian di hilir saluran ini harus mendapatkan prioritas. Sedangkan untuk wilayah yang ada di depannya, masih cukup aman,’’ tegas Taufik.

Taufik menyatakan, para petani juga harus disiplin dalam menggunakan air. Jajaran TNI dan Polri pun akan mengawasi pendistribusian air tersebut.

Tak hanya meninjau ke lapangan, dalam kesempatan itu Taufik juga mengadakan pertemuan dengan Asisten Manajer Perum Jasa Tirta II, Budiana Sukardi. Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang distribusi air yang bersumber dari Bendung Salam Darma.

Taufik meminta agar PJT II terus mempertahankan pasokan air yang dialirkan ke Kabupaten Indramayu. Selain itu, segera merealisasikan pembongkaran bangunan liar yang mengganggu distribusi air.

‘’Jika nanti debit air menurun, kita akan minta pasokan tambahan air agar pertanian di Indramayu bisa dijamin irigasinya dan target padi nasional yang diberikan kepada kita bisa terpenuhi,” kata Taufik.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, berharap, langkah yang dilakukan orang nomor satu di Kabupaten Indramayu itu bisa mengatasi ancaman kekeringan yang kini melanda areal pertanian di wilayahnya.

Waryono menjelaskan, selama ini ada jadwal gilir air irigasi untuk memenuhi kebutuhan air bagi wilayah-wilayah di Kabupaten Indramayu. Namun, selama ini air tak pernah sampai ke wilayahnya saat gilir air berlangsung.

‘’Coba saja nanti lihat Selasa (jadwal gilir air), air sampai tidak,’’ tukas Waryono.

Waryono menyebutkan, ada sekitar 1.300 hektare tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur yang terancam mati akibat kekeringan. Kondisi yang paling parah tersebar di empat desa, yakni Desa Karangmulya, Karanganyar, Wirakanan dan Wirapanjunan.

Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, menjelaskan, ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Kecamatan Kandanghaur. Namun,  juga di beberapa kecamatan lainnya, di antaranya Kecamatan Terisi, Gabuswetan dan Losarang.

‘’Yang terparah memang di Kecamatan Kandanghaur,’’ kata Sutatang. 



Sumber