Jajaran kepolisian di beberapa daerah, mulai dari Aceh sampai ke Papua, menggulung prostitusi online yang disebut-sebut melibatkan mahasiswi, artis dan fotomodel. Bahkan, di awal tahun 1990-an ada mucikari yang khusus mencari wajah atau paras perempuan yang mirip artis kemudian ‘dipermak’ agar benar-benar mirip artis yang akan ‘dijual’.

Berita Tagar, 13 Juli 2020, “Kasus Prostitusi HH, Warganet Seret Nama Hana Hanafiah” serta beberapa berita lain terkait dengan prostitusi online yang melibatkan mahasiswi dan artis serta fotomodel menunjukkan perminataan (demand) pasar laki-laki ‘hidung belang’, bahkan yang punya istri, terhadap cewek prostitusi online. Untuk memenuhi demand ini rekrutmen di kalangan mahasiswi, artis dan fotomodel pun dilakukan para germo atau mucikari sebagai supply.

Dari aspek epidemiologi kesehatan seksual cewek-cewek prostitusi online, siapa pun mereka dan apa pun pekerjaan mereka, sama saja dengan seorang pekerja seks komersial (PSK) karena melayani laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom. Mereka ini dikenal sebagai PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata, sedangkan PSK di tempat-tempat pelacuran terbuka seperti lokalisasi atau lokres pelacuran disebut PSK langsung karena kasat mata.

1. Prostitusi Online Jadi Penyebaran IMS, Virus Kanker Serviks dan HIV/AIDS

PSK tidak langsung adalah cewek atau perempuan yang berisiko tinggi tertular IMS atau HIV/AIDS serta virus kanker serviks atau ketiga-tiganya sekaligus. IMS adalah infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual penetrasi (seks oral, vaginal dan anal) di dalam dan di luar ikatan pernikahan yang sah dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom. IMS yang umum dikenal yaitu kencing nanah (GO), raja singa (sifilis), virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, virus kanker serviks, dll.

Celakanya, ketika polisi menangkap mahasiswi, artis atau fotomodel yang terlibat prostitusi online tidak dilakukan tes IMS dan tes HIV. Tes ini perlu agar laki-laki yang sudah seks dengan mahasiswi, artis atau fotomodel menyadari dirinya sebagai orang yang berisiko IMS atau HIV/AIDS serta virus kanker serviks atau ketiga-tiganya sekaligus agar mereka jalani tes IMS dan tes HIV. Sebagai perhatian dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 29 Mei 2020, sampai 31 Maret 2020 jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dari seluruh Indonesia mencapai 511.955.

Prevalensi (perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif) di kalangan PSK juga tinggi sehingga probabilitas tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual dengan PSK sangat tinggi. Data Kemenkes RI tahun 2012 menunjukkan 6,7 juta laki-laki Indonesia jadi pelanggan 230.000 PSK di beberapa tempat pelacuran terutama kota dengan pelabuhan. Akibatnya, mereka jadi kelompok paling berisiko tinggi menyebarkan HIV/AIDS, terutama ke pasangan seks, seperti istri. Dari 6,7 juta laki-laki pelanggan PSK itu 4,9 beristri (bali.antaranews.com, 9 April 2013).

Dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 29 Mei 2020, pada priode Januari – Maret 2020 ada 145.281 ibu hanil yang jalani tes dengan hasil positif 1.549 atau 1,07%. Dari jumlah ini hanya 547 yang dapat pengobatan. Padahal, ibu hamil yang mengidap sifilis bisa melahirkan anak dengan cacat bawaan, seperti buta, bibir sumbing, tangan atau kaki kecil, dll.

Lalu, mengapa pasar prostitusi online tetap marak?

Paling tidak ada dua alasan yaitu sensasi seks dan snobisme (KBBI: orang yang senang meniru gaya hidup atau selera orang lain yang dianggap lebih daripadanya tanpa perasaan malu). Di tahun 1990-an seorang psikolog UI, alm. Sartono Mukadis, mengingatkan agar masyarakat menjauhkan diri dari snobisme. Tapi, peringatan itu tidak digubris banyak orang bahkan dijadikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

2. Kehidupan yang Hedonis

Kondisinya kian runyam karena di masyarakat berkembang hedonisme (KBBI: pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup) sehingga perbuatan yang melawan hukum, norma, moral dan agama pun tidak jadi masalah untuk mendapatkan uang.

Korupsi dan pungli merajalela di semua tingkatan aparat pemerintahan dan swasta. Premanisme marak. Penipuan, bahkan memakai selubung agama, pencurian, penjambretan, dan perampokan pun terus terjadi.

Andil masyarakat untuk mendorong hedonisme juga sangat besar. Di masa saya anak-anak di tahun 1960-an – 1970-an seorang anak dipanggil dengan julukan keahliannya. Si Badu yang jago panjat kelapa. Si Midun yang pintar menggocek bola. Si Amat yang suara azannya bagus, dst. Tapi, sekarang seseorang dipanggil berdasarkan harta yang dia miliki. Si Jek yang naik motor merah. Si Jim yang naik mobil hitam, dst.

Sensasi seks diharapkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ ketika mereka mendapatkan seorang mahasiswi, artis atau fotomodel adalah merupakan upaya mereka mewujudkan fantasi seksual yang mereka bangun ketika melihat mahasiswi, artis atau fotomodel di media massa dan sekarang di media sosial. Padahal, taris sekali kencan (short time) dengan mahasiswi, artis atau fotomodel berkisar antara Rp 1,5 juta – Rp 60 juta. Ini yang dari data yang diungkap polisi.

Salah satu fantasi seksual yang dikenal luas adalah melakukan hubungan seksual dengan selebritas (pesohor) baik laki-laki ke artis perempuan atau sebaliknya. Laki-laki atau perempuan yang jadi pemuja atau penggemar seorang selebritas akan membayangkan seks dengan selebritas itu dalam alam fantasi seksualnya. Maka, ketika ada tawaran untuk kencan dengan selebritas laki-laki penggemar selebritas itu pun akan tertarik untuk mem-booking (memesan), dalam bahasa media sosial disebut BO. Ini tidak sembarangan karena harus ada panjar atau uang muka disebut DP (down payment) yang dibayarkan ke rekening bank tertentu.

Di awal tahun 1990-an cewek-cewek PSK high class (ini termasuk PSK tidak langsung) membawa gesekan kartu kredit (EDC/Electronic Data Capture). Pintu kamar hotel dibuka tapi masih terkait rantai, kartu kredit diminta kemudian si cewek menggesek baru transaski seks dieksekusi. Untuk mencegah penipuan ketika itu kaki laki-laki masuk mengganjal pintu agar pintu tidak bisa ditutup si cewek dari dalam (dari berbagai sumber). []





Sumber