Sejak Covid-19, dunia pendidikan dinilai mengalami tatanan pola yang berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA mengatakan perlunya perubahan tatanan baru terhadap pola pendidikan di kampus itu sejak permasalahan wabah Covid-19 melanda Indonesia.

“Sejak Covid-19, dunia pendidikan mengalami tatanan pola yang berbeda. Perubahan ini harus ditata ulang agar implementasi capaian pendidikan sesuai standar luaran yang diharapkan,” kata Prof Dwia, dalam kegiatan diskusi daring bertema “New Normal or Great Reset: Life After Pandemic Covid-19” di Makassar, Sabtu (13/6).

Prof Dwia memandang ada beberapa hal utama dalam pengelolaan pendidikan tinggi yang mengalami perubahan sejalan dengan pandemi Covid-19, di antaranya terkait manajemen administrasi pendidikan tinggi yang berjalan lebih cepat, efektif, dan produktif.

“Selama pandemik semua aktivitas administrasi, seperti registrasi mahasiswa baru, ujian, bahkan wisuda berlangsung lebih cepat. Dulu kita mesti rapat, kemudian membentuk panitia, menyiapkan logistik, dan sebagainya. Hal ini berubah sejak pandemi. Eksekusinya justru jadi lebih cepat, karena semua terdorong untuk menggunakan teknologi. Jadi ke depan, pendidikan tinggi harus memaksimalkan struktur organisasi, maupun SDM,” katanya.

Selain manajemen administrasi, Prof Dwia menuturkan bahwa riset, publikasi dan inovasi juga terpengaruh oleh adanya wabah Covid-19.

Selama masa pandemi, kata dia, riset berkembang lebih inovatif dan tidak membutuhkan waktu lama. Jika sebelum pandemiinovasi harus menunggu bertahun-tahun, namun selama Covid-19, para peneliti bisa bergerak cepat dengan menghasilkan banyak karya penelitian.

Di Unhas sendiri, katanya, sejak pandemi berlangsung banyak hasil inovasi karya peneliti Unhas. Unhas menghasilkan inovasi ventilator, aerosol channel, dan beberapa aplikasi lainnya. Ini juga perlu dilakukan penataan ulang dengan cara membangun infrastruktur ekosistem sains yang memadai ataupun tema riset yang mengarah pada kesehatan lingkungan.

“Yang paling terlihat perubahannya adalah mekanisme pembelajaran. Pembelajaran online sebenarnya sudah lama ada, namun penerapannya tidak semasif sekarang,” katanya.

“Hal ini juga perlu kita pikirkan keberlanjutannya. Kita tahu bahwa sasaran pembelajaran tidak hanya mencakup aspek kognitif saja. Perlu ada sistem blended learning dengan penerapan SOP yang sesuai,” lanjut dia.

Sejak pandemi Covid-19, Prof Dwia menambahkan tanggung jawab sosial dan solidaritas universitas sangat terlihat. Banyak kegiatan kemasyarakatan dari perguruan tinggi guna membantu permasalahan masyarakat di tengah pandemi.

“Kita terharu melihatnya. Di Unhas semua terlibat, mulai tenaga kependidikan sampai mahasiswa, bahkan alumni. Melalui Satgas Covid-19 kami mengumpulkan donasi yang dalam waktu singkat terkumpul miliaran rupiah. Hasilnya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan APD tenaga medis dan bahan pokok masyarakat,” kata Prof Dwia, pada kegiatan yang juga melibatkan beberapa narasumber, yakni Rektor Institut Pertanian Bogor (Prof. Dr. Arif Satria, SP., M.Si), Najeela Shihab (penggiat pendidikan) dan Sultan Rivandi (Presiden Mahasiswa UIN Jakarta).

sumber : Antara



Sumber