JawaPos.com – Hari ini (18/8) rencananya perwakilan warga dari Kelurahan Kemuteran, Kroman, dan Lumpur kembali diundang DPRD Gresik. Agendanya membahas polemik berkepanjangan tentang aktivitas bongkar muat batu bara PT Gresik Jasa Tama (GTJ) di wilayah pelabuhan. Sudah bertahun-tahun warga berontak lantaran polusi udara dan ancaman kesehatan.

Pertemuan di dewan yang dijadwalkan pukul 13.00 itu sebetulnya cukup diwakili warga dan tokoh warga setempat. Selain perwakilan warga, dewan juga mengundang pihak-pihak terkait. Namun, ternyata warga lain juga ingin adanya kepastian soal tuntutan mereka. Kabarnya, ada ratusan, bahkan ribuan warga, yang akan bergabung. Maklum, bisa jadi warga sudah sangat lama merasa menderita.

Muhammad Kholil, salah seorang juru bicara warga, mengatakan bahwa warga sepakat pertemuan yang membahas polemik aktivitas bongkar muat batu bara itu harus merupakan pertemuan resmi. Warga berhak mengetahui hasilnya. Sebelum PT GJT kembali beroperasi, memang ada yang mendatangi beberapa warga. ”Tapi, kami tolak karena tidak resmi,” ucapnya.

Kholil menegaskan, warga sudah sepakat tidak ada negosiasi lagi. Mereka meminta GJT untuk pindah sesuai kesepakatan yang dibuat di hadapan notaris pada Maret 2016. Yakni, relokasi ke kawasan Pelabuhan Internasional JIPPE di Manyar.

Sementara itu, tim Jawa Pos melakukan penelusuran ke kelurahan terdampak dan mendatangi sejumlah rumah warga. Salah satunya di Kemuteran. Di samping gapura masuk kampung tersebut terdapat warung kopi. Sisi warung yang menghadap ke Jalan RE Martadinata itu sudah dilapisi jaring hitam ditambah dengan tumbuhan pagar.

Pemilik warung yang juga ketua RT 05 itu menunjukkan kardus mi instan di warungnya. Tampak debu-debu hitam masih menempel. ”Memang sengaja tidak saya bersihkan sebagai bukti,” ucap pemilik warkop tersebut.

TAK CUKUP DISAPU: Warga menunjukkan foto rontgen pada paru-paru yang terkena dampak debu batu bara. Warga mengaku kesulitan membersihkan debu dan kerap terhirup.

Sejumlah warga juga terlihat berkumpul di poskamling. Lokasinya berhadapan dengan warkop tersebut. Tidak lama, ada tiga dump truck hijau melaju dari timur ke barat yang masing-masing berisi penuh batu bara. Beberapa butir batu bara jatuh tepat di depan gapura itu. ’’Ya begini. Bagaimana tidak khawatir dan cemas terus,’’ ujar warga. Di beberapa gang kampung, juga telah terpasang spanduk dengan tulisan: Kami Tetap Konsisten Relokasi Batu Bara Harga Mati.

Titik Prawati Hesti, seorang warga lain, mengajak tim Jawa Pos ke rumahnya. Rumah itu berjarak 200 meter dari Jalan RE Martadinata. ”Ini sudah dibersihkan. Meskipun GJT off, debu hitam itu masih beterbangan,” ungkapnya.

Jawa Pos juga menemui pegiat posyandu di Kemuteran. Namanya Dewi Asmawati. Kebetulan rumah ibu berusia 52 tahun itu berimpitan dengan jalan kabupaten tersebut. Namun, posisinya membelakangi jalan. Dewi bercerita, sejak aktivitas bongkar muat batu bara berhenti beberapa bulan lalu, dirinya merasakan tubuhnya enak. Tidak ada sesak napas atau batuk-batuk. ”Dulu ketika aktif, saya sesak dan sering batuk,” katanya.

Sebetulnya, setelah bongkar muat beroperasi pada Rabu lalu, warga belum bercerita kepada dirinya. Namun, sejak lama banyak keluhan yang sampai di telinga Dewi. ”Dua tahun lalu, ada ibu usia 50-an tahun meninggal karena sesak napas dan komplikasi. Itu baru satu, belum yang sakit lainnya terkait paru-paru,” ucapnya.

Debu batu bara berbeda dengan debu lain. Disapu saja tidak cukup. Sehari Dewi mengaku bisa lima kali menyapu rumahnya yang juga memiliki usaha warung itu. ”Bisa bersih itu kalau dipel pakai air. Kalau sapu saja tidak hilang,” katanya.

Dihubungi secara terpisah, salah seorang dokter spesialis paru dr Wiwik Kurnia Ilahi SpP menjelaskan, polusi debu dalam jangka pendek bisa berdampak pada kesehatan berupa batuk atau pilek. Apabila di usia muda mulai terpapar, diperkirakan pada usia 45 tahun jaringan di paru-paru berpotensi mulai mengalami kerusakan. Bagaimana soal debu batu bara? ”Kalau debu batu bara ini berupa partikel, dampaknya bisa membuat jaringan paru-paru rusak dan itu tidak bisa diperbaiki. Nama penyakitnya PPOK (penyakit paru obstruktif kronis),’’ jelasnya.

POIN KESEPAKATAN PT GJT DENGAN WARGA

NOTARIS: ANIS MOHAMMAD, 6 MARET 2016

Pengurangan dampak debu batu bara, PT GJT sudah melakukan:

  • Memasang jaring penangkal debu di beberapa titik di area PT GJT.
  • Bekerja sama dengan UD Putra Makmur mengenai batu bara yang tercecer di jalan.
  • Penerapan muatan dump truck tidak melebihi bak, tertutup rapat, dan maksimal 20 km/jam.
  • Truk batu bara melewati satu jalur, Jalan Harun Thohir.
  • Penghijauan di area PT GJT.
  • Melaksanakan ketentuan dinas perhubungan mengenai jam operasi di jalan khusus untuk dump truck pengangkut batu bara (sesuai ketentuan pemerintah).
  • Aktivitas bongkar muat batu bara segera dipindahkan apabila pembangunan JIIPE sudah selesai (sesuai ketentuan pemerintah).
  • Melaksanakan kebersihan jalan dengan kendaraan sweeper untuk membersihkan batu bara yang tercecer.
  • Melaksanakan pengetesan kepekatan udara setiap tiga bulan sekali oleh badan lingkungan hidup dengan disaksikan pihak pertama (warga) dan muspika setempat sesuai standar yang diwajibkan pemerintah.

 

Kegiatan CSR untuk desa/kelurahan terdampak (Kroman, Kemuteran, Pakelingan, Kebungson, Bedilan, dan Pulopancikan), PT GJT setuju:

  • Pengobatan gratis.
  • Bantuan dana untuk kebersihan musala.
  • Bantuan dana untuk kebersihan sekolah.
  • Bantuan dana pendidikan (beasiswa).
  • Pemberian bantuan sembako untuk warga terdampak.
  • Bantuan hewan kurban.





Sumber