Robohnya Patung Simbol Rasisme di Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, — Sebuah patung Raja Leopold II di kota Belgia, Antwerp, dirobohkan pada hari Selasa lalu ke depan dalam masa depan jangka panjangnya akan dijadikan koleksi sebuah museum. Beberapa hari hanya sebelumnya patung setelah dilumuri dengan cat oleh pengunjuk rasa anti-rasisme.

Mengutip dw.com patung Leopold itu  telah lama dikritik oleh para aktivis karena pemerintahan brutal mantan Raja Leopold di bekas jajahan Belgia di Afrika Monumen. Patung yang bernilai khusus ini berada di sebelah sebuah gereja di distrik Antwerpen di Ekeren pun selama sepekan ini telah menjadi sasaran para pemrotes.

Sosok patung Leopold tersebut di kota pelabuhan itu kini tidak akan kembali ke tumpuannya dan sebaliknya “hanya akan menjadi bagian dari koleksi museum,” seperti dikatakan Johan Vermant, juru bicara walikota Antwerp, Bart de Wever

Dia sebelumnya sempat mengatakan karena pekerjaan renovasi yang direncanakan untuk 2023 di alun-alun kota di mana ia ditempatkan, patung itu pernah tidak akan diganti.”
Namun, sekarang, patung itu dirusak selama munculnya gelombang protes yang dipicu setelah pembunuhan George Floyd di Amerika Serikat dua pekan sebelumnya. Namun, aksi protes ini sejak pekan lalu telah menyebar ke seluruh dunia, mencapai Belgia.

Nasib patung raja Belgia lainnya yang berada di taman Museum Afrika, di Tervuren,  tepat di luar Brussels, juga telah terkena vandalisme. Patung para raja di sana juga ditemukan disemprot dengan grafiti pada hari Selasa lalu

Leopold Sebarkan Kematian di Kongo

Sementara itu,  pada hari Selalu lalu, sebuah petisi online melawan memori Leopold telah mendapat dukungan 64.000 tanda tangan. Petisi itu mengusulkan bahwa raja Belgia ini bertanggung jawab atas kematian lebih dari 10 juta orang Kongo selama 23 tahun masa pemerintahannya di negara Afrika tengah itu.

Dan memang, Kongo adalah wilayah kekuasaan pribadi Leopold dari tahun 1885 hingga 1908. Sejarawan Adam Hochschild, penulis buku terlaris “Hantu Raja Leopold” di AS, menyimpulkan bahwa sekitar setengah penduduk Kongo kala itu mati di bawah pemerintahan raja Leopold.

Namun, pada saat yang sama ada petisi lain yang ingin menjaga patung Leopold di Antwerpen. Mereka bersikeras menyatakan dia bukan “raja budak.”  Petisi ini telah mendapat dukungan hingga melewati angka 8.000 tanda tangan. Mereka menegaskan bahwa bahwa Leopold tidak seharusnya dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka ketika menjalankan kekuasaannya di koloni itu.

Kisah Robohnya Patung Pedagang Budak di Bristol

Edward Colston adalah pedagang budak abad ke-17 yang memainkan peran utama dalam pengembangan kota Bristol. Dan Belgia bukan satu-satunya negara Eropa yang kini tengah memperdebatkan patung kolonial dalam beberapa hari terakhir.

Di kota Bristol, Inggris, sebuah patung pedagang budak George Colston digulingkan pada hari Minggu dan dilemparkan ke sebuah sungai. Mereka menyerukan walikota London untuk memerintahkan peninjauan patung dan nama jalan di ibukota Ingggris tersebut.

BG Statuen Proteste weltweit gegen Rassismus und Kolonialismus Bristol Edward Colston

Seorang Muslim yang kini menjadi Wali Kota London, Sadiq Khan mengatakan dia sedang menyiapkan tinjauan untuk mengevaluasi monumen ibukota Inggris dan memastikan mereka mencerminkan keragamannya.

“Ini adalah kebenaran yang tidak nyaman bahwa bangsa dan kota kita berutang sebagian besar kekayaannya ke perannya dalam perdagangan budak. Dan sementara ini tercermin dalam ranah publik kita, kontribusi banyak komunitas kita terhadap kehidupan di ibukota kita telah disengaja diabaikan, ” kata Khan.

Seiring itu, pada selasa lalu, sebuah patung Robert Milligan, seorang pedagang budak abad ke-18, juga dipindahkan dari alasnya di luar sebuah museum London pada hari Selasa.



Sumber