loading…

Hari ini tepat 76 tahun silam, untuk pertama kalinya bom yang bisa dikendalikan dari jarak jauh digunakan dalam peperangan. Vergeltungswaffe 1 atau V-1, sebutan rudal buatan Nazi-Jerman itu, menghunjam permukiman di London, Inggris dan Antwerp Belgia dalam Perang Dunia II. Senjata bernama resmi Fieseler Fi 103 itu mulai dikembangkan sayap udara Nazi pada akhir 1939 di Peenemunde. Senjata ini beranya 2.150 kilogram dan panjangnya 5,3 meter. Mesinnya menggunakan jet pulse Argus As 014. Dengan kecepatan jelajah 640 kilometer per jam, V-1 mampu menjangkau jarak 250 kilometer. (Baca juga: KM Dharma Rucitra Bocor dan Nyaris Tenggelam di Pelabuhan Padangbai Bali)

Sukses V-1 membuat Nazi mempercepat pengembangan generasi kedua, yaitu V-2 yang memiliki kemampuan jauh melebihi pendahulunya. Lebih hebat dari V-1, roket V-2 mampu melaju sejauh 320 kilometer dengan kecepatan 4.000 kilometer per jam.
(Baca juga: KM Dharma Rucitra Bocor, Penumpang Histeris dan Berlompatan ke Laut)

Sesuai dengan sebutannya, ”vergeltungswaffe” yang berarti senjata balas dendam, V-1 dan V-2 banyak memakan korban. Sekitar 3.000 buah rudal tersebut dimuntahkan Nazi-Jerman selama kurun waktu 13 June 1944 sampai 29 March 1945, mengakibatkan kematian lebih dari 7.000 tentara dan warga sipil. Proses pengembangan V-2 juga menyebabkan 20.000 pekerja paksa yang dikerahkan dari kamp-kamp tahanan di wilayah invasi Nazi, tewas.

Menjelang berakhirnya perang dengan kekalahan poros Jerman, intelijen Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Uni Sovyet bersaing untuk mendapatkan teknologi roket yang dapat dikendalikan tersebut. Ketiganya berebut menangkap ilmuwan dan insinyur di balik V-2, yaitu Wernher von Braun untuk mendapatkan desain dan segala hal berkaitan dengan teknologi roket.

AS akhirnya memang beruntung. Kendati Peenemunde dikuasai Sovyet, melalui operasi Paperclip AS mendapatkan Wernher von Braun lengkap dengan sebagian besar tim teknisnya dengan imbalan status kewarganegaraan. Von Braun lalu dibawa ke New Mexico, tempat pengembangan senjata Angkatan Laut AS. Di sana Von Braun mengembangkan teknologi V-2 untuk diterapkan pada penjelajahan ruang angkasa.

Pada 1950, Von Braun berhasil mengembangkan rudal balistik jarak menengah untuk AD, yang juga dimodifikasi sebagai roket peluncur satelit pertama AS dalam misi luar angkasa. Roket yang dinamakan Redstone tersebut menjadi dasar pengembangan roket-roket berikutnya.

Bagaimana dengan Sovyet? Tidak mendapatkan Von Braun, Sovyet atas perintah Stalin mengirimkan para insinyur terbaiknya untuk melihat apa yang bisa diselamatkan, terutama untuk pengembangan sistem senjata masa depan. Tim insinyur dipimpin oleh Sergei Korolev, kolega Von Braun dalam pengembangan senjata, saat menjadi tawanan Nazi selama enam tahun.

Setelah setahun di Peenemunde, Sovyet membawa sekitar 170 ahli roket Jerman ke Pulau Gorodomlya, sekitar 150 mil barat daya Moskow. Di sana para ahli roket untuk difungsikan sebagai konsultan penciptaan V-2 versi Sovyet. Dengan bantuan para ahli roket itu, Korolev akhirnya bisa menciptakan V-2 versi Sovyet yang diberi nama R-1. Roket tersebut berhasil diluncurkan pada Oktober 1948 dan menjadi basis pengembangan roket G-1, G-2 dan G-4 dalam misi antariksa Sovyet.

(shf)



Sumber