JawaPos.com–Siswa inklusi yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mendapat perhatian khusus. Di SMPN 4 Surabaya, meski terdapat pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK), terdapat beberapa kendala. Salah satunya partisipasi orang tua.

Hal itu disampaikan oleh Siti Latifah, GPK yang menangani siswa baru. Orang tua yang acuh terhadap program sekolah membuat siswa ABK (anak berkebutuhan khusus) harus bekerja ekstra. ”Misalnya ketika ada materi yang disampaikan via zoom, ternyata orang tuanya nggak tahu. Jadi GPK harus mengajari orang tuanya,” tutur Latifah pada Rabu (15/7).

Meski begitu, keacuhan orang tua bukan kendala berarti. Sebab, SMPN 4 menerapkan sistem baru. ”Yakni dengan mengirimkan lembar kerja langsung ke rumah. Atau orang tua mengambil ke sekolah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” ujar Siti Latifah.

Hal yang sama disampaikan Mochamad Kelik, kepala SMPN 4 Surabaya. Menurut dia, keberadaan WhatsApp yang familiar cukup memudahkan tenaga pengajar. ”Karena semua orang tahu WhatsApp, jadi kami mengirimkan materi pada siswa yang tertinggal pelajaran,” ungkap Mochamad Kelik.

Pada hari ketiga ini, 18 siswa inklusi yang diterima akan diklasifikasikan untuk masuk ke kelas-kelas tertentu. ”Jadi setelah mengetahui kondisi, keadaan dan minat serta bakatnya, GPK baru memetakan pembagian siswa inklusi. Satu kelas ada 2–3 siswa dengan kondisi yang sama untuk memudahkan tenaga pengajar,” tutur Kelik.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : rafika



Sumber