PRAYA-Sebagian nelayan lobster di Dusun Awang Balak Desa Mertak, Pujut, Lombok Tengah beralih menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). “Mereka berangkat sejak larangan ekspor benih lobster,” tutur salah seorang nelayan lobster Sayid Kadir Al Idrus pada Lombok Post, Minggu (12/7/2020).

Kata dia, sebagian lagi nekat bertahan sebagai nelayan lobster. Mereka diam-diam menangkap benih lobster, lalu dijual ke pengekspor.

Bahkan langsung di ekspor ke luar negeri. Jika lagi apes, meraka tertangkap tangan oleh aparat dan menerima hukuman di jeruji besi.

Selain itu, ada juga yang beralih menjadi nelayan tangkap ikan, budi daya rumput laut dan mutiara. “Itu daripada anak dan istri tidak makan,” keluh Kadir.

Dia menerangkan, begitu informasi keran ekspor benih lobster dibuka, PMI yang sedang pulang kampung memastikan diri tidak lagi bekerja ke luar negeri. Itu karena pendapatannya, tidak sebanding dengan nelayan lobster.

Dulu, pendapatan nelayan lobster mencapai Rp 1 juta per hari per nelayan. Kalau per bulan antara Rp 25 juta-Rp 30 juta per nelayan. Kalau pengekspor bisa meraup miliaran rupiah per tahun.

Untuk itu, pihaknya berharap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Loteng segera jemput bola ke provinsi dan pusat. “Pemerintah harus memastikan keran ekspor benih lobster dilaksanakan tahun ini juga,” harapnya.

Kata dia, saat ini, nelayan sedang didata untuk masuk kelompok. “Kami berharap, setelah ini kami bisa bekerja,” ujar Kadir.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kelautan dan Perikanan Indonesia (APKPI) Buntaran mengatakan, akan terus mengawal Permen KP Nomor 12 Tahun 2020. Sampai pemerintah pusat benar-benar memberikan kepastian kapan ekspor benih lobster di buka di NTB. Terutama terkait kuota dan lokasinya.

“Perjuangan ini demi nelayan, demi kesejahteraan mereka,” pungkasnya. (dss/r5)

 

 



Sumber