Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ancaman di laut itu bukan hanya pencurian ikan saja, melainkan ada pelanggaran wilayah, Perompakan (armed robb piracy), kecelakaan di laut, penyelundupan, illegal fishing, pencemaran di laut, terorisme di laut, dan invasi.

Kemudian juga ada kejahatan yang terkait dengan IUUF yakni perbudakan, perusakan lingkungan, overfishing, konflik, penipuan, atau pencucian uang.

“Jadi dari permasalahan krisis kemaritiman Indonesia ini harus mampu menangani semua bentuk ancaman ini,” ujarnya.

Adapun analisis strategi yang ia bagi ke dalam SWOT (Strengths/kekuatan, Weaknesses/kelemahan, opportunities/kesempatan, dan Threats/ancaman).  Untuk kekuatan sendiri ia menyebutkan strategi gelar operasi, multi stakeholder, dan jumlah nelayan. Dengan mengoptimalisasikan gelar operasi Keamanan Laut dengan bekerja sama dan memberdayakan stakeholder.

Lalu untuk kelemahannya ia menyebut jumlah alat terbatas, sinergi belum optimal, dan komunikasi lemah. Untuk menyelesaikan hal itu maka ia memiliki strategi untuk memprioritaskan sektor operasi dan revitalisasi birokrasi.

Sedangkan untuk kesempatan yang ia lihat ada musuh bersama, bijakan kelautan, dan kepentingan stakeholder. Untuk mewujudkan kesempatan itu ia akan menjalin kerjasama dengan lintas negara dan membangun kapasitas dan kepercayaan kepada negara terkait.

Demikian melihat ancaman akan laut Indonesia yang luat, posisi geografis, dan kelangkaan Sumber daya, ia akan membangun kekuatan dengan mendorong  secara berkelanjutan untuk membangun mindset kepercayaan bahwa Indonesia mampu mengamankan wilayah maritimnya.



Sumber