Terbang - Part 3
“`figure_image
{“alt”:”Bab 2″,”caption”:””,”hash”:”0h3MSnqr5-bGJuF0TcfcITNVRBbw1de39hCiE9fD55MlYXciM0BnggDE1EMlZCJys8ACEnDUgWd1MRJy8xVncg”,”quality”:0,”style”:0}
“`

Pasar Ikan Lingkas, 1970.

“Siapa nama anak kecil itu? Dari tadi dia terus menge­lilingi Pasar Ikan. Apakah anak itu adalah anaknya preman pasar ini?� selentingan suara ibu-ibu terdengar hingga ke telinga bocah berusia delapan tahun itu. Onggy kecil yang bergerak begitu gesit menyusuri lorong-lorong lapak Pasar Ikan Lingkas. Pasar ikan yang berada di bibir dermaga.

“Namanya Onggy,� sahut salah satu penjual ikan. Kalau para ibu-ibu itu membutuhkan data yang lebih leng­kap, sebenarnya bisa saja penjual ikan itu menyebutkan nama lengkap Onggy, yaitu Onggy Hianata Chunnardi.

“Onggy? Iya, tapi siapa dia? Anak preman pasar?� tanya pemilik lapak ikan asap itu kembali. Dia sendiri tak yakin dengan perkiraannya. Tangannya mengibas-ngibaskan lipatan koran bekas untuk mengusir lalat-lalat di antara tumpukan ikan. Dahinya berkerut, keringatnya mulai jatuh. Walaupun kurus, anak bernama Onggy ini mengenakan pakaian yang bersih. Kakinya pun menge­nakan sandal. Larinya begitu kencang.

“Bukan, dia bukan anak preman pasar, tapi dia memang selalu senang bermain di sini,� penjual itu kembali merapikan dagangan ikan agar memudahkan para pembeli untuk memilah-milih kualitas ikan yang terbaik.

Onggy senang berlama-lama di tengah kerumunan pa­sar. Riuh pedagang dan tawar-menawar dengan pem­beli, menumbuhkan sesuatu yang bergerak pelan dalam dada Onggy. Ditambah letaknya yang tak jauh dari pantai membuat anak kecil ini begitu puas memperhatikan seke­lilingnya. Kalau sudah bosan berkeliling pasar ikan, dia akan kembali memandangi laut. Dia bisa sampai melamun memperhatikan hamparan air biru itu.

“Apa mungkin surga juga berwarna biru?� Onggy ber­gumam. Biru di kanvas langit dan di hamparan laut se­la­lu membuat Onggy terpukau.

Jika sudah bosan, pilihannya hanyalah pulang ke rumah.

Berbeda dengan hari ini. Sebelum berpikir untuk pu­lang, Onggy berhenti di ujung luar pasar ikan. Ada yang menarik perhatian Onggy. Kedua telinganya mendengar­kan sebuah suara yang berasal dari ember milik seorang penjual ikan. Dari dalam ember, tampak beberapa ikan menggelepar. Kecipaknya begitu kuat. Air muntah dari sisi ember. Sebuah ember di sampingnya begitu penuh ikan segar, beberapa berjatuhan. Ikan-ikan yang jatuh itu mengentak-entakkan tubuhnya di sisi dermaga.

Onggy melihat ikan-ikan berontak, melompat-lompat sekuat tenaga, seolah ingin membebaskan diri. Mungkin mereka tak rela kesenangan hidupnya diganggu. Sedang santainya berenang di lautan biru, tiba-tiba saja manusia menangkapnya ke atas daratan.

Beberapa menit kemudian, seekor ikan berhasil bebas, keluar dari ember. Ikan itu jatuh ke dermaga kayu. Badannya menggelepar.

Tanpa rasa takut, tangan mungil Onggy meraih ikan itu. Seperti orang yang tak pernah melihat ikan sebe­lumnya, dia mengangkatnya ke depan wajah. Dia per­hatikan lekat-lekat mata, mulut, dan sirip ikan itu. Semakin lama, gerakan ikan itu semakin melemah. Dia butuh air. Mungkin sama halnya seperti manusia yang membutuhkan mimpi dalam hidupnya. Jika tak ada mimpi, hidup seperti ikan di hadapan pedagang. Menunggu dibeli dan dimasak sesampainya rumah.

“Hey anak kecil!� tiba-tiba tangan renta nelayan mere­but ikan dari tangan Onggy, “Bukannya sekolah, ma­lah main-main di pasar! Sana pergi!�

Onggy tak cepat pergi, justru memperhatikan nelayan tua itu. Wajahnya kelam akibat dihajar panas matahari setiap hari ketika melaut. Tangannya kasar akibat terus bergesekan dengan tambang dan cantrang.

Kalau Onggy senang menatap laut dan setiap hari main ke pasar ikan seperti saat ini, apakah nanti ujung-ujungnya dia akan menjadi nelayan, pikir Onggy. Bukan­nya dia menganggap remeh pekerjaan tersebut. Akan tetapi, dia merasa nasib bapak tua ini sebenarnya bisa lebih baik lagi daripada saat ini. Begitu pula dengan dirinya. Onggy tak mau terjebak dalam lingkaran nelayan seperti bapak tua ini.

“Hey! Kau tidak dengar, ya?� melihat Onggy tak ber­anjak sedikit pun dari tempatnya, pak nelayan kem­bali menegur. “Pergi sana! Kau hanya menggangguku be­kerja!�

“Apa Bapak dulu sekolah?� refleks, Onggy menanya­kan hal ini kepada si nelayan tua.

Pertanyaan Onggy terasa menusuk kalbu nelayan tua. Lelaki yang tidak sekolah baru saja menyuruh Onggy untuk sekolah. Apakah anak kecil ini bermaksud mem­balas dendam kepadanya?

“Kalau sekolah, kenapa? Kalau tidak sekolah, kena­pa?� Si nelayan tua sebenarnya tak menjawab pertanya­an Onggy. “Sudah sana! Pergi saja! Dari tadi mengganggu orang bekerja!�

Onggy segera berlari menjauh. Dia meninggalkan ke­riuh­an Pasar Lingkas. Langkahnya begitu cepat dan lebar-lebar, seolah ingin berlari jauh ke tengah samudra, yang membuatnya menjadi ikan bebas dengan keinginan tak terbatas.

Namun, menyedihkannya adalah jika ikan-ikan itu mulai dijerat jala oleh manusia. Mimpi-mimpi pun harus padam. Mereka hanya bisa pasrah ketika para nelayan membawa ke darat.

***

Jadi, ke manakah kaki mungil Onggy akan berayun setelah bermain-main di Pasar Lingkas?

Setelah melewati pesisir pantai, Onggy memasuki hutan dan jalan setapak. Larinya begitu cepat. Wajahnya tetap penuh semangat. Tak tersirat sedikit pun keletihan di wajahnya, apalagi memutuskan untuk rehat sejenak. Napasnya terengah-engah.

“Awas jangan lari-lari! Nanti jatuh!� tegur perempuan penjual sayur yang berpapasan dengan Onggy di jalan setapak.

Onggy menanggapi ibu itu dengan seulas senyum.

Ibu itu pun membalas senyum itu dengan helaan napas panjang.

Sampai akhirnya, kedua kaki Onggy berhenti berayun. Kedua matanya menangkap tulisan di sebidang papan nama. Lagi-lagi, dia kemari.

“SD Negeri Utama 1 Tarakan,� Onggy membaca tulisan yang dibacanya di papan itu.

Kedua mata Onggy tak berhenti memandangi anak-anak berseragam putih merah. Mereka sedang bermain sambil berlarian di halaman. Ada juga yang baru memasuki pekarangan sekolah. Entah bagaimana rasanya menjadi bagian dari sekolah ini. Sebuah rasa yang diam-diam Onggy rindukan. Terlebih A Lie kakaknya menjadi salah satu murid di sana.

Sekolah Dasar Negeri Utama 1 Tarakan adalah satu-satunya sekolah di kota kecil ini. Kondisi bangunannya begitu sederhana, cenderung tua dan mulai rapuh. Lantainya papan dan berpanggung. Di kolong bangunan itulah, anak-anak kerap bermain dan bercengkerama. Beberapa langit-langit di kelas ada yang mulai mengelupas. Jika hujan datang, memang tidak langsung bocor. Namun jika tidak diperbaiki, sepertinya cepat atau lambat air hujan bisa menggenangi ruang kelas.

“Kamu ketahuan sembunyi di sana! Hahahaaaaa!� canda tawa anak-anak SD yang sedang bermain petak umpet terdengar di telinga Onggy. Tampak mereka seru sekali bermain. Jangan-jangan mereka juga tak menyadari kondisi bangunan sekolahnya. Asalkan dapat menerima pelajaran dari guru dan bermain bersama teman-teman, anak-anak sekolah ini sudah tampak bahagia.

Aku ingin sekolah seperti anak-anak lain, ungkap Onggy dalam hati. Bila ada suatu yang dia inginkan, Onggy lebih memilih mengutarakannya kepada hati. Hanya hati­nya­lah teman sejatinya saat ini.

“Hey, Onggy! Sedang apa?� Di tengah lamunannya, se­seorang menyebut namanya. Dia langsung menoleh ke sumber suara.

Rupanya A Lie yang memanggil.

“Sedang apa kau di sini?� ulang A Lie, kemudian ber­simpuh agar tingginya sama dengan Onggy.

Mereka terhalang pagar sekolah yang berupa jajaran kayu. Tak begitu rapat, tapi tingginya mengharuskan Onggy jinjit untuk menyaksikan suasana di sebalik pagar. “Sampai keringatan begini?� A Lie mengusap dahi Onggy yang kuyup. “Lari lagi?�

Onggy hanya membalas dengan senyum. A Lie paham betul kebiasaan Onggy yang senang betul berlari. Basah di kening pasti bukan karena hujan atau tercebur di pantai. A Lie sudah hafal betul perilaku adiknya yang begitu aktif.

“Kamu kan bisa jalan. Mengapa harus lari seperti ma­ling dikejar polisi saja,� A Lie mengelap telapak tangan­nya yang basah oleh keringat Onggy ke sisi dalam pagar.

Secara fisik, Onggy dan A Lie bisa dikatakan mirip. A Lie juga bertubuh kurus dan jangkung, bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Model potongan rambut mereka berdua pun sama. Agar lebih praktis, mama me­motong cepak rambut mereka. Kata A Lie, biar gagah seperti tentara.

“Aku,� ada sebuah kata terlontar lirih dari mulut Onggy.

Sayangnya, A Lie tak menyadarinya. Padahal, Onggy ingin mengucapkan satu permintaan besarnya.

“Pulanglah! Ganti bajumu,� A Lie mengibaskan ta­ngan, memberi perintah kepada adiknya untuk mening­gal­kan sekolah, “Nanti dicari Papa dan Mama.�

Onggy menggelengkan kepala.

“Ada apa sebenarnya?� A Lie menghela napas. “Akhir-akhir ini, aku lihat kau sering kemari. Kalau kau ingin ber­main dengan anak-anak SD ini, nantilah sepulang sekolah. Mama bisa khawatir kalau kamu tidak pulang seharian.�

Onggy menggelengkan kepala lagi.

A Lie terpaksa mendorong pelan pundak adiknya, “Un­tuk apa kau di sini?�

“Aku mau sekolah,� tatap Onggy dengan mimik wa­jah agak nelangsa.

“Hah?� Bukan main terkejutnya A Lie. Untuk be­berapa detik, dia pandangi wajah adiknya yang katanya kuyup.

Melihat dari usianya, memang seharusnya Onggy sudah duduk di kelas 3 SD. Sayangnya, kedua orang tua mereka tak memiliki biaya. Jadi kemungkinan, Onggy tidak sekolah terlebih dahulu sampai mama dan papa punya cukup uang.

Selang beberapa waktu saling tatap, Onggy akhirnya berbalik dan berlari meninggalkan A Lie dan sekolah kesayangannya. Di bawah naungan langit yang begitu terik, dia kembali mengayunkan langkah untuk kembali pulang ke rumah. Dia berencana ingin menyampaikan keinginan untuk bersekolahnya kepada kedua orang tuanya. Semoga saja terkabul.

Meskipun tampaknya begitu sulit.[]



Sumber